Sunday, September 30, 2018

Sinopsis The Third Charm Episode 1 Part 1


Sumber: jtbc

-Adieu, 2012-


Di hari yang sibuk, ada dua orang detektif yang sedang mengintai, On Joon Young (Seo Kang Joon) dan seorang anggota timnya. Anggota timnya mencopot kaus kakinya yang bau, ia kesal karena harusnya bisa dipakai buat hari lain lagi.


Joon Young kelihatan sekali tidak nyaman, ia bahkan menutup hidungnya. 

"Nanti kakimu busuk. Hidungku juga." Kata Joon Young.

"Kau ini. Semua kaki polisi bau semua, jadi kau harus terbiasa sekarang. Walau kau lagi mengintai, kau selalu ganti dalaman dan kaus kaki 2 kali sehari. Kau itulah yang aneh."

"Joroknya."


Joon Young membuka jendela untuk menghilangkan bau, tapi segera menutupnya lagikarena terlalu dingin.

Anggota Tim: Sungguh hari yang baik. Di hari seperti ini, kau harusnya kencan sama cewek cantik di tempat seperti itu. Kau malah mengintai para pria. Aiyoo.


Sementara itu, di dalam bar, ada Lee Young Jae (Esom) sedang bersenang-senang bersama Baek Joo Ran (Lee Yoon Ji).


Young Jae lelah dan memilih duduk, Joo Ran mengikutinya. Joo ran menunjuk salah satu gadis yang sedang berjoget.

"Cewek itu. Cewek yang disana. Dia reporter cuaca, bukan? Dia operasi hidung. Lihatlah. Ujung hidungnya pun dibuat senatural mungkin. Katanya Steve dekat sama banyak perempuan. Termasuk selebriti dan juga bukan selebriti."

"Kau serius mau nongkrong di pesta sama orang-orang seperti itu? Kita di sini saja sudah membuktikan kita seperti mereka. Tidak semua orang bisa datang ke sini. Semua orang ingin sekali datang ke pesta pribadinya Steve."


Ternyata Joon Young tidak hanya berdua, ada rekannya di mobil depan. Mereka ngomongin Joon Young yang katanya tidak sabaran, menyebalkan.

"Aku tahu jabatan itu penting, tapi bisa-bisanya anak muda itu jadi kapten kita? Bukan subdit sembarangan, lagi. Kita ini Subdit Jatanras (Kejahatan dan Kekerasan). Bukannya Subdit Jatanras harusnya lebih berkelas?"

"Memang ini tidak biasanya. Tapi dia ditunjuk secara khusus untuk mengubah sistem. Dan dari sepengamatanku, dia cukup teliti dan teratur."

"Hei, apa gunanya polisi subdit Jatanras teliti dan teratur? Kita itu harusnya kuat bertahan seperti anjing yang tidak pernah melepaskan gigitan mereka. Aku waktu itu lihat dia pas makan malam tim kita."

"Apaan?"

"Dia membilas gurita tumis dalam air sebelum dimakan."

"Apa?"

"Bukankah aneh?"


Joo Ran juga melontarkan kalimat yang sama, Aneh sekali. Di usia Young Jae yang sekarang masih tak tertarik sama pria. Jangan fokus ke karir saja, perhatikan juga kehidupan pribadi!! "Kalau kau terus bekerja seperti itu, kau bisa-bisa jadi hidup sendirian selamanya."

"Apa? Seperti Unni?"

"Iya, kau ini. Kau mungkin merasa masa usia 20-an mu tidak akan pernah berakhir. Jika kau tidak menikmatinya, kau akan menyesalinya. Walaupun kau sepertinya memang tidak menikmatinya. Hari-hari seperti ini, harusnya ada orang yang membuat jantungmu berdebar. Kau harusnya ada seseorang yang yang tidak bisa berhenti kaupikirkan. Pasti tak ada, 'kan?"


Joon Young menjawab tentu saja ada, wanita yang sama sekali tidak bisa ia lupakan. Seseorang yang sangat meremehkan perasaannya dan selalu membuatnya marah.

"Owh.. Baru keluar sikap menawanmu itu."

"Menawan? Aigoo. Menawan, kaubilang? Temperamen dia jelek sekali. Dia mudah marah dan orangnya kasar. Dia mungkin sekarang lagi berkelahi sama orang."


Young Jae juga membahas soal mantannya, "Tak hanya itu saja. Dia itu sangat canggung. Dia bisa buat orang jadi kesal. Yang bagusnya, dia kadang bisa bersikap manis. Aku penasaran apa dia sekarang hidup mandiri atau tidak."

"Tidak! Pria manis itu tidak berguna. Pria itu harusnya jantan. Mereka harus punya hasrat. Pria manis mana bisa keluar malam-malam. Pria manis itulah pria yang jahat."


Joon Young meminta persetujuan anggota Tim-nya, dia wanita jahat, 'kan?

"Dia pasti membuatmu sangat ketakutan, ya."

"Takut apanya. Aku sudah melupakan semuanya tentang dia. Sedikit pun, aku tak ingat."

"Jika kau tidak ingat apa pun, kenapa kau bisa menjelaskan semuanya tadi? Kapten, jika kau datang ke gerejaku... ada sekelompok orang yang  bisa menyembuhkanmu.."

"Tidak seperti yang kaupikirkan, kok."

"Kau pasti benar-benar terluka. Lihatlah. Wajahmu kuning sekali."

"Ini karena aku pakai BB cream."

"Kulitmu kasar sekali."

"Apaan kau ini?"


Dan percakapan mereka terhenti karena orang yang mereka intai datang, si pecandu narkoba yang memakai pakaian serba hitam, maskernya pun hitam.

Maka Joon Young pun memberitahu anggota Tim-nya yang lain kalau si pecandu sudah datang. Ia mengintruksikan untuk masuk 30 menit lagi karena si pecandu butuh waktu buat teler.


Bintang utama yang ditunggu-tunggu datang juga, Steve.


Steve juga menyapa Joo Ran. 

"Akan kucaritahu, dan nanti kukirim hadiahnya." Kata Steve.

"Oke, kutunggu, ya. Terima kasih sudah mengundang kami."

"My pleasure. Happy New Year, sis."


Sedetik setelah Steve pergi, Young Jae langsung mengomentari kalau bicara Steve jelek sama seperti pas dia nyanyi.

"Kemampuan bernyanyi dia bukanlah  yang membuat dia populer. Dia boleh saja sombong, tapi setidaknya dia sopan. Buktinya aku selalu dipedulikan karena aku desainer pribadinya."


Steve masuk ruangan khusus, disana juga ada si pecandu yang sedang menghitung uang. 

Steve tampak teler.


30 menit berlalu, saatnya masuk ke dalam. Ternyata Tim-nya Joon Young banyak juga. Mereka tidak diijinkan masuk, tapi mereka memaksa walau harus melawan banyak penjaga.


Sementara itu, si pecandu keluar dari ruangan khusus tadi.


Tim Joon Young akhirnya bisa masuk ke dalam lokasi pesta bertepatan dengan perhitungan waktu mundur 10 detik menuju tahun baru 2013.  

Ten! Nine! Eight! ....


Joon Young memerintah anggota tim nya untuk mengeluarkan semua orang yang ada di sana. Anggota Tim terkejut, semuanya?

Tapi belum sempat Joon Young menjawab, ia melihat si pecandu, ia pun memerintahkan anggota tim-nya untuk segera mengejar.


Joon Young mengawasi, sementara anggota tim-nya yang mengejar.

Two! Are you...

Dan, tahun pun berganti, semua bersorak gembira. Tapi Joon Young malah mematung saat melihat Young Jae. Young Jae juga terdiam saat melihat Joon Young.  


Sementara itu, anggota tim Joon Young berhasil menangkap si pecandu.


Young Jae tersenyum pada Joon Young.

Narasi Joon Young: "Di dunia ini, ada dua tipe wanita. Wanita yang harus kau temui dan wanita yang sebaiknya tidak perlu kautemui. Hari ini... aku bertemu dengan tipe wanita yang ketiga. Seorang wanita yang seharusnya tidak pernah kutemui lagi. Si wanita jahat itu."

[THE THIRD CHARM]


Joon Young saat masih kuliah beda banget sama di di tahun 2013. Waktu itu ia bener-bener cupu. Di kereta, ia menghafal materi ujiannya hari ini.


Ia harusnya turun sekarang, tapikarena terdesak oleh penumpang yang naik, ia akhirnya melewatkannya.

Ia menenangkan dirinya, "Tak apa, tak apa. Pemberhentian berikutnya, empat menit lagi. Butuh tujuh menit buat kembali ke stasiun ini. Jadi aku akan berjalan sangat cepat dan menghemat empat menit. Aku akan menghindari gerbang utama  karena ramai sekali. Jadi butuh 9 menit 30 detik buat sampai ke lantai 3. Jadi aku akan sampai 11 menit lebih cepat. Tapi butuh waktu tiga menit buat mampir ke toilet. Berarti aku akan sampai delapan menit lebih cepat. Oke."


Dan Joon Young pun kembali fokus belajar, ia komat-kamit menghafal dan tiba-tiba ada yang mengelu.

"Hentikan sudah."

Joon Young menoleh ke sumber suara, itu ternyata adalah Young Jae. Joon Young mengira suaranya mengganggu, maka ia pun bergeser (1 mm mungkin) menjauh.


Tapi yang dimaksud Young Jae bukan itu, ia menyuruh pria mesum di sampingnya untuk berhenti. Keknya korbannya wanita di depan pria itu deh.


Saat kereta berhenti, wanita korbannya itu langsung turun, malu mungkin. Tapi Young Jae tidak bisa membiarkan si pria mesum bebas, ia pun hendak menyeret pria itu kebagian keamanan.

Joon Young menyatakan tidak sukanya pada Young jae dalam hati.

"Tak suka aku, sama wanita yang terlalu berisik. Apalagi wanita yang kasar. Wanita yang adrenalinnya terlalu berlebihan. Bukan hanya tidak suka. Aku sangat benci."


Ternyata pria itu seorang dokter. Ia mengeluh bahwa jadwal operasinya gagal karena Young Jae.

"Masa bodoh kalau dia dokter. Pokoknya tadi aku lihat si mesum ini menyentuh bokong seorang wanita."

"Memang ada buktinya? Ada saksi? Korban saja tak ada, tapi beraninya kau menuduhku? Apa kau jangan-jangan mata duitan? Kau mau cari uang dengan cara seperti ini? Kau sering melakukan ini, 'kan?"

"Dasar cabul kau. Padahal aku ini harus pergi."

"Mana bisa kau pergi? Kau menuduh orang yang tidak bersalah."

Pria itu meminta petugas menyelidiki Young Jae. Mata duitan seperti Young Jae ini harus dikasih pelajaran.


Lalu datanglah Yoon Joon menunjukkan rekamannya. Yoon Joong tidak suka ada orang yang salah paham dengannya jadi ia selalu merekam apapun untuk berjaga-jaga.


Mereka melihat rekaman itu dan benar saja, pria itu memang menyentuh bokong wanita tadi.


Young Jae: Lihat 'kan? Mata duitan? Pelanggar hukum? Ada buktinya. Ada saksi juga. Ini buktinya dan ada saksi buat membuktikannya.

Pria: Sebelum pengacaraku sampai, aku berhak bungkam. Padahal tadi kau banyak omong. Kenapa sekarang tidak bicara?

BTW, sedari tadi Joon Young berusaha mengambil ponselnya dari Young Jae, tapi Young Jae malah memberikannya pada petugas.


Joon Young akhirnya harus mengambil dari tangan petugas. Ia pun permisi setelah mendapatkannya, tapi petugas menyuruhnya menulis laporan sebagai saksi sementara pria itu menunggu pengacaranya.

"Aku agak sibuk sekarang." Kata Joon Young.

"Kau 'kan sudah datang buat berbuat baik. Jadi kau sebaiknya menyelesaikannya." Jawab Petugas.

Young Jae juga pamit setelah berpesan agar petugas memenjarakan pria cabul itu. Tapi petugas juga mengharuskannya menulis laporan.


Petugas menyadari kalau tas Joon Young dan Young Jae sama persis, tas pasangan ya? Mereka pacaran ya?

"Tidak, tidak mungkin." Jawab Joon Young tegas, sementara YounG Jae memaksa petugas mengijinkannya pergi, tapi petugas tetap menahan mereka sampai laporannya selesai.


Akhirnya mereka harus berlari ke tujuan masing-masing. Tujuan mereka berbeda jadi mereka harus berpisah jalan.


Dikelas, ujian sudah dimulai tapi Joon belum juga datang. Beruntung Joon Young sampai saat soal baru dibagikan. Dosen mengijinkannya ikut ujian karena Joon Young jarang telat seperti sekarang.

Joon Young adalah mahasiswa jurusan Kimia Organik.


Young Jae juga ada ujian, Ujian Praktek Kedua, Sertifikasi Penata Rambut. Sama seperti Joon Young, ia juga agak terlambat.


Joon Young tetap fokus, ia mengerjakan dengan lancar. Tapi ada satu gangguan, temannya minta diconteki. Beruntung Dosen memergoki dan segera menghukum temannya itu.


Saat teman itu dihukum, ada yang contekan juga, tapi jawabannya ngaco. Masa soalnya menjelaskan adrenalin dan noradrenalin jawabannya permintaan maaf.

"Maaf, Pak. Ibuku dirawat di rumah sakit karena hepatitis A akut."


Sementara itu, Young Jae tidak bisa fokus, ia gemetar, jadi ia menjatuh-jatuhkan barang.


Joon Young mendapatkan banyak penghargaan, prestasinya jempolan. Ia juga sangat rapi dalam menata buku-bukunya.

Tiba-tiba pintu kamarnya dibuka saat ia sedang menata buku-bukunya. Joon Young kesal.

"Ketuk dulu."


Barulah si pembuka pintu mengetuk pintu, dia adalah adik Joon Young, On Ri Won (Park Gyu Young). Ri Won menyuruh Joon Young lain kali untuk pulang lebih awal karena Joon Young harus memasakkan makan malam untuknya, ia lapar.


Young Jae juga makan malam bareng sama kakak laki-lakinya, Lee Soo Jae (Yang Dong Geun) dan pacar kakaknya.

Soo Jae heran melihat Young Jae yang masih selera makan padahal gagal ujian lagi. Young Jae membela diri, ia tidak akan gagal jika tadi tidak terlambat.

Soo Jae: Bagus sekali alasanmu itu.

Unnie (Pacar Soo Jae): Itu karena dia menangkap orang jahat.

Soo Jae: Kau masih juga tidak tahu? Memperjuangkan keadilan apanya. Itu pasti karena dia kesal. Yang dia tahu ini cuma beradu kepala.

Unnie: Lain kali, dia pasti lulus.

Soo Jae: Dia ini takkan bisa.

Young Jae: Jika kau akan mengutukku, jadilah model rambutku dulu.

Soo Jae: Memangnya aku gila? Aku takkan membiarkan rambut pemberian orang tuaku ditata sama kau.


Soo Jae cerita pada Unnie kalau anakkecil dekat swalayan sana, rambutnya dipotong botak karena tatanan rambut Young Jae payah. Young Jae membela diri, itu untuk mendaftar militer, makanya ia sengaja melakukannya.

Unnie: Untunglah.

Soo Jae: Tapi anak itu perempuan, bukan laki-laki.

Young Jae: Tidak, Unnie. Aku jago  potong rambut sekarang. Kalau menata rambutlah, aku masih kurang. Manekin 'kan tidak bisa bicara, jadi mana aku tahu jika kepalanya sakit atau jika mereka suka tatanan rambutnya?

Soo Jae: Dia ini tidak punya bakat. Tapi selain itu, dia ini kuat.


Young Jae menatap Unnie. Soo Jae tahu betul apa maksud Young Jae, iamelarang keras Young Jae menyentuh rambut kakaknya. Kalau sampai berani, ia akan potong tangan Young Jae.

Young Jae: Apa kau itu benar kakakku? Ini menjengkelkan sekali. Aku sepertinya harus cari pacar.

Soo Jae: Kau masih kecil buat pacaran.

Unnie: Kenapa? Dia 'kan sudah umur 20 tahun sekarang. Kau tidak ikut kencan buta?

Soo Jae: Cewek tomboy seperti dia memangnya ada cowok yang mau?

Young Jae: Potong saja dagingnya.


Joon Young memasak di rumahnya dan kelihatan banget ia sangat lihai.


Ternyata keluarga Joon Young masih lengkap. Ayah memuji masakan Joon Young yang lebih lezat daripada masakan ibu.

Ibu: Aku tidak punya bakat memasak.

Ayah: Bakatmulah bisa melahirkan putra berbakat ini. Bagaimana kalau masakannya tidak enak dan memaksa kita memakan semuanya? Untunglah itu tidak kejadian


Ri WOn: Ibu itu normal, malah dia ini yang tidak normal. Kukira dia bakal sadar kalau sudah jadi mahasiswa. Tapi dia sampai sekarangpun tidak ada harapan, dia pun langsung pulang setelah kuliah. Dia tidak tidur di tempat teman, makan di luar, dan tidak punya pacar. Dia juga tidak pernah ditelepon sama cewek.

Ayah: Mana mungkin. Pasti dia kencan rahasia. Dia mahasiswa sekarang. Dia harusnya pergi berkencan dan semacamnya.

Joon Young: Bisa tidak kita fokus makan saja?


Ada yang menelfon Ri Won, tapi Ri Won tidak menolaknya. Ibu bertanya, dia lagi? Ri Won menjawab bukan urusan ibu, masalahnya sekarang itu putra sulung dari rumah, menurutnya Joon Young ini gay atau dia bingung tentang identitas seksualnya.

Ibu: Lihatlah wajahnya. Perempuan pasti sudah tergila-gila padanya tanpa kacamata dan kawat giginya.

Ri Won: Tapi masalahnya, dia pakai kacamata dan kawat gigi.


Ibu: Dia mirip keluarga ibunya, jadi dia mirip seperti ibuku pakai wig. Kalian tahu nenek kalian itu dulu ikut Miss Korea, 'kan?


'Dia' menelfon lagi, tapi Ri WOn kembali menolaknya. Ayah heran, kenapa 'Dia' terus menelfon Ri Won padahal Ri WOn tidak suka dia?

"Tapi aku tidak ada pernah bilang aku tidak menyukainya."

"Tapi kau tidak menyukai dia."

"Itu urusanku. Dan ini masalah dia karena terus saja meneleponku."


Ibu bertanya, apa 'Dia' itu dari SMA mereka? Jangan bilang 'Dia' ada di kelas Ibu.

Ri Won: Aku tidak akan menjawab itu karena dia juga punya privasi. Dan kalau di sekolah, pura-puralah seolah kita tak kenal. Buat menghindari kesalahpahaman yang mungkin terjadi, aku merahasiakan identitasku sebagai putri dari pasangan guru.

Joon Young selesai makan dan bangkit duluan, tapi Ri Won menyuruhnya mencuci piring juga.


Di rumah Young Jae, Soo Jae yang bertugas mencuci piring. Dan saat Soo Jae melakukannya, Young Jae menggosipkannya di depan Unnie.

Young Jae: Unnie terlalu baik buat kakakku. Memang apa kelebihan dia? Dia tidak punya uang ataupun waktu. Dan dia tidak tahu malu. Tak ada yang bisa dibanggakan dari dia.

Soo Jae bisa dengan jelas mendengar suara Young Jae, tapi kali ini ia membiarkan Young Jae mengejeknya, ia tidak akan tersinggung.

Young Jae: Sepertinya pendengaran dia yang cukup bagus.

Unnie: Aku suka kopi buatan dia.


Young Jae lalu mendekati kakanya, ia bersikap imut untuk meminta kopi buatan kakaknya.


Soo Jae pun membuat 3 cangkir kopi. Young Jae heran, padahal cuma kopi instan, tapi kenapa rasanya beda sekali?

Soo Jae: Astaga, kita minum kopi setelah makan perut babi. Tidak ada kencan yang sebagus ini.

Young Jae: Jangan menghabiskan waktu di rumah. Kencanlah di luar saja. Ajak dia ke restoran yang bagus, dan ke bioskop.

Soo Jae: Pasti waktu lowongmu banyak sekali, ya. Aku mana ada waktu sebanyak itu. Duduk di bioskop gelap itu buang-buang uang namanya.

Young Jae: Alasan yang payah sekali.

Unnie: Aku juga suka menghabiskan waktu di sini. Kita bisa lihat bintang dan minum kopi buatan Oppa.

Young Jae: Unnie memang sudah suka sekali padanya. Unnie tidak pernah putus dengannya saat dia lagi wamil pun membuatku mengira kau mungkin agak aneh. Benar juga, kau juga masih pacaran dengan walau kau pernah mencium kakinya. Kau pasti tidak normal.

Soo Jae: Bukannya kau bilang kau tertarik pada pria tangguh sepertiku?


Dan Soo Jae pun memberi pelajaran untuk adiknya tersayang. Ia membuat adiknya mencium bau kakinya.


Soo Jae mengantar Unnie pulang. Unnie berkata kalau ia menaruh ginseng mentah madu di kulkas. Pastikan Soo Jae memakannya.

"Sabarlah sebentar lagi. Setelah aku lulus ujian, aku akan langsung menikahimu."

"Tentu saja. Apa kau tidak akan membawaku?"

"Hei, kenapa kau selalu cantik setiap hari?"


Ternyata Young Jae memergoki mereka yang lagi mesra-mesraan.

"Aku bisa lihat kalian, tahu."

Soo Jae malah pamer.

"Tak enak dilihat, tahu." Kata Young Jae dan mereka pun tertawa.

0 komentar

Post a Comment