Sunday, September 16, 2018

Sinopsis The Ghost Detective Episode 6


Sumber: KBS2


Yeo Wool baru menyadari kalau Da Il bisa menyentuh alat pendengaran Yi Rang. Da Il juga tidak mengerti alasannya, apa karena wanita itu atau karena Yeo Wool.



Da Il membatin: Dia memanfaatkan halusinasi pendengaran dan visual. Lee Chan Mi sangat kesakitan hingga harus memotong telinganya. Meneriaki anak-anak dalam karyawisata itu juga berlebihan. Serta manajer itu mengalami kecelakaan setelah melihat sosok wanita itu. Lalu sebelum meninggal, dia mengira Yeo Wool adalah Yi Rang. Jika benar begitu, aku mungkin bisa mencari petunjuk dengan suara yang kudengar melalui alat bantu dengar ini.


Da Il lalu memakai alat pendengaran itu, tapi ia tidak mendengar apapun, maka ia mencopotnya lagi.


Da Il menyuruh Yeo Wool beristirahat, ia akan kembali nanti. Tapi Yeo Wool ingin ikut. Da Il melarang karena Yeo Wool bahkan tidak tahu tujuannya.

"Kamu ingin memeriksa alat bantu dengar itu di tempat lain. Sepertinya kamu tidak bisa mendengar apa pun. Kurasa kamu akan membutuhkanku."

"Apa pun yang kamu lakukan, jangan melakukannya sekarang. Akan kucoba sendiri dahulu."

"Aku baik-baik saja. Jika tidak bertindak sekarang, aku akan makin gelisah."


Da Il membawa Yeo Wool ke sebuah rumah, ia menunjukkan letak kunci rumah itu yaitu di kotak surat.

"Ini rumahmu?" Tanya Yeo Wool sambil mengambil kuncinya.

"Bukan. Kantorku adalah rumahku. Aku makan dan tidur di sana."

"Maka rumah ini..."

"Sebaiknya kamu tidak tahu. Maka kamu bisa mendengar dengan lebih akurat tanpa prasangka."


Maka Yeo Wool pun membuka pintu rumah itu dengan kunci yang ia temukan di dalam kotak surat.

Rumahnya berdebu banget sampai saat diinjak meninggalkan jejak karena saking tebal debunya.

Da Il menatap satu pintu yang ada di rumah itu, ingatannya melayang.

-=Lima tahun yang lalu=-


Dahulu Da Il hidup dengan ibunya di rumah itu. Setiap hari ibunya selalu mendengarkan lagu yang sama. Saat Da Il bertanya alasannya, ibunya hanya mengatakan kalau ia suka liriknya.


Karena Da Il terus memandang pintu itu tanpa beranjak, Yeo Wool pun membukanya.


Akhirnya Da Il pun mendekat, tapi ia malah bertanya apa Yeo Wool baik-baik saja? Jika merasa ragu atau tidak ingin, Yeo Wool tidak harus melakukan ini.

Tapi Yeo Wool tetap berusaha, ia memakai alat pendengaran itu dan fokus mendengarkan. Ia mendengar suara wanita itu.

"Bukankah lebih baik mati daripada hidup seperti itu?"

Kilas Balik..


Ibu tidak sengaja menjatuhkan gelas hingga pecah berkeping-keping di lantai. Saat itu Da Il mendekat, Ibu menyuruhnya menjauh karena nanti berdarah bila kena pacahan gelas. Tapi tiba-tiba Da Il berkata sesuatu yang menyakitkan.

"Ibu. Sejak aku masih kecil, Ibu sudah menjadi beban. Tanpa Ibu, aku bisa melakukan banyak hal."


Ada juga wanita itu, ia menuntun apa yang diucapkan Da Il, intinya Da Il mengulangi apa yang diucapkan wanita itu.

"Andai aku yatim piatu, pasti mudah bagiku untuk mengurus diriku sendiri. Aku tidak akan berakhir seperti ini, berusaha mendapatkan pekerjaan tetap di badan militer."

"Da Il-ah." Panggil Ibu lirih.

"Aku juga lelah, Bu. Aku.. ingin membuat Ibu yang membebaniku enyah dari hidupku."


Ibu mulai menangis, ia bahkan menggenggam erat pecahan gelas yang diambilnya tadi sampai tangannya berdarah.

Wanita itu memberikan pecahan gelas yang paling runcing pada Ibu. Ibu menoleh pada wanita itu dan saat ia kembali memandang Da Il, pandangannya menjadi buram.

Kilas Balik Selesai..


Wanita itu memperhatikan Yeo Wool dan Da Il tapi mereka tidak menyadari.


Da Il meminta Yeo Wool terus mengatakan semuanya. Intinya, Yeo Wool mendengar semuanya dan mengatakan semuanya pada Yeo Wool.

"Siapa kamu?" Kata ibu yang langsung ditirukan Yeo Wool.


Ibu menodong Da Il dengan pecahan gelas pemberian wanita itu. Ibu tahu di depannya itu bukanlah Da Il karena perkataan Da Il barusan adalah pikirannya bukan pikiran Da Il. 

"Katakan. Siapa kamu? Kenapa kamu melakukan ini kepadaku?!" Bentak Ibu.

Wanita tadi menjawab, "Ini membosankan."


Ibu menoleh pada wanita itu, lalu menoleh lagi pada Da Il, tapi Da Il lenyap, hilang dari sana.

Wanita itu melanjutkan, "Jadi, kamu tidak akan bunuh diri? Apa yang akan membuatmu mati? Putramu bisa mati menggantikanmu. Aku akan membuatnya membencimu dan bunuh diri karena kamu membuat hidupnya sengsara."

"Jangan. Jangan mengganggu putraku."


Wanita itu tersenyum namun segera berubah menjadi menyeramkan lagi dan ia mulai bercerita,

"Ayahku mati saat aku berusia 12 tahun karena dia tidak mau menjadi beban. Bukankah itu tindakan yang benar? Jadi, putuskanlah. Entah putramu atau kamu yang mati di sini.


Da Il meneteskan airmata mendengarnya.

Ibu menyalakan lagu yang biasa ia dengar. Tak lama Da Il pulang. Da Il melihat ada yang aneh, berantakan di ruang tamu dan ada jejak mengarah ke kamar mandi.


Da Il memanggil-manggil Ibunya sambil berjalan menuju kamar mandi. Ia membuka pintu setelah ijin dengan ibunya untuk masuk.


Dan disana ia menemukan ibunya sudah tidak bernyawa.

"Ibu! Ibu! Ibu. Ibu! Ibu, kenapa... Ibu. Ibu. Ibu. Astaga. Ibu. Ibu, kenapa... Kenapa Ibu melakukan ini?"


Da Il menemukan tulisan di cermin yang ditulis ibu dengan darahnya.

"Da Il-ah. Jangan memercayai perkataan orang lain kepadamu. Jangan memercayai perkataan wanita itu kepadamu. Ibu sangat menyayangimu."


Da Il terus mencoba menyadarkan ibunya da saat itu ia melihat wanita itu keluar.


Da Il tidak sanggup berdiri setelah mendengar semuanya dari Yeo Wool.

Saat Yeo Wool akan mencopot alat pendengarannya, ia kembali mendnegar perkataan wanita itu,

"Tidak akan ada yang tahu perbuatanku kepadamu."


Da Il bertanya apa yang dikatakan wanita itu. Yeo Wool pun mengatakannya.

"Tidak akan ada yang tahu perbuatanku kepadamu. Bahkan putramu sekalipun. Karena aku.. tidak ada."

Da Il menyuruh Yeo Wool pergi, tapi Yeo Wool mengajak Da Il pergi bersamanya. Yeo Wool menunggu sampai Da Il siap.


Tiba-tiba seliruh isi rumah bergetar, seperti terjadi gempa bumi. Lampu gantung diatas pecah dan rak di belakang Yeo Wool akan roboh ke arah Yeo Wool.

Da Il berdiri untuk menyelamatkan Yeo Wool dan tepat saat itu waktu berhenti, tapi Da Il dan Yeo Wool sama-sama bisa bergerak.


Tapi waktu segera berjalan setelah Da Il berhasil menjauhkan Yeo Wool dari rak yang akan roboh.


Yeo Wool bertanya-tanya, semua tadi yang melakukannya adalah Da Il? Da Il hanya diam saja. Yeo Wool lalu mengajak Da Il keluar dari sana.

"Apa tindakan kita berikutnya?" Tanya Da Il.

"Kita.. harus mencari wanita itu."

"Bagaimana kita mencarinya? Bagaimana kita akan menangkapnya? Aku tidak bisa menyentuh apa pun dan orang tidak bisa melihatku. Sama seperti wanita itu, aku juga tidak ada. Tidak ada yang bisa mengubah ini."


Yeo Wool menggenggam tangan Da Il, "Meski begitu, aku tetap ingin menangkapnya. Aku akan menangkapnya dan menanyakan kenapa dia melakukan itu. Kenapa dia harus melakukan itu kepada Yi Rang dan kepada ibumu. Aku akan menanyakan alasan dia membunuh mereka. Kamu memberitahuku bahwa Yi Rang berbeda. Kamu bilang, dia berusaha melindungiku. Begitu pun ibumu. Dia tidak tertipu oleh wanita itu. Dia hanya.. berusaha melindungimu. Jadi, kita pun harus begitu. Memang sudah terlambat, tapi kita tetap harus bertindak. Bukankah begitu? Selain itu, menyerah bukan sifatmu."

"Apa yang kamu tahu?"


Da Il kembali semngat lagi, pertama mereka akan mencari wanita yang membunuh Yi Rang. Yeo Wool heran, Da Il tahu keberadaannya?

"Setidaknya aku tahu siapa targetnya berikutnya." Jawab Da Il.


Target berikutnya adalah Direktur TK. Wanita itu memanfaatkan Guru Lee.


Direktur bersiap tidur, tapi tiba-tiba tangannya bergerak sendiri. Ia jelas sangat ketakutan, apalagi tiba-tiba tangannya terikat lampu hias (yang digunakan guru Lee gantung diri) dan tiba-tiba ia melihat guru Lee gantung diri di depannya.


Direktur melepaskan ikatan itu lalu berlari keluar. Ia menyetir dalam keadaan sangat ketakutan, ia tidak dalam keadaan waras 100%.


Sementara itu, Yeo Wool dan Da Il masuk diam-diam ke TK. Da Il membantu Yeo Wool memanjat pagar sehingga nanti Yeo Wool bisa membuka gerbang dari dalam.


Disana sepi banget, gelap pula. Da Il fokus sampai ia mendnegar sesuatu (seperti tetesan air) dan melihat pintu depan terbuka dengan sendirinya. Da Il pun masuk ke dalam tapi sendirian.


Sementara itu, Yeo Wool melihat ada seorang anak di taman, ia pun mendekat.

"Nak, sedang apa kamu di sana?" tanya Yeo Wool.


Saat Yeo Wool sudah mendekati anak itu ternyata anak itu sedang memisahkan sayap dari beberapa jenis serangga dari tubuh serangga-serangga itu. Yeo Wool menegur anak itu untuk tidak melakukannya.

"Jika aku melakukan ini, apa mereka akan terluka atau marah?" Tanya anak itu


Anak itu tersenyum, "Kamu marah?"

Tiba-tiba Yeo Wool hanya bisa kembali mendengar suara yang berbunyi nyaring "ngiiiiiiiiinggggggg". Yeo Wool menutup telinganya dengan satu tangan karena satu tangannya lagi memegangi lengan anak itu.


Da Il kembali ke kamar mandi dimana Eun Yool disekap, dimana ia dibunuh. Lampu disana berkedip-kedip terus-menerus.

Da Il seperti tidak sadar sudah masuk ke sana sampai lampu mati sepenuhnya.


Namun saat ia akan keluar, ia mengingat bagaimana Guru Lee memukulnya dengan palu sampai ia tewas. Kepalanya sakit sampai ia tidak bisa berdiri. Ia melihat wanita itu juga dengan posisi sama persis saat ia tergeletak setelah dipukul palu, wanita itu bersama Bo Ri.


Direktur terbangun di mobilnya, ia melihat sekeliling dan ia tidak sadar kenapa ia bisa sampai disana. Direktur akan menyalakan mobilnya, tapi tidak mau menyala.

Direktur kesal dan memukuli setir mobil, dan saat ia agak tenang, ia melihat Guru Lee ada di jok belakang melalui kaca sepion.

Direktur memberanikan diri menengok ke belakang dan bnar saja, Guru Lee ada disana dengan penuh darah.

Direktur mau keluar dari mobi, tapi tidak bisa, semua pintu mobilnya terkunci.


Da Il mencoba sekuat tenaga menguasai dirinya sendiri. Ia berhasil berdiri dan langsung segera keluar dari sana.


Sementara itu, Yeo Wool masih memegangi anak itu dan suara nyaring masih terus ia dengar.


Da Il berhasil keluar dari sana dengan susah payah. Ia melihat Yeo Wool dan langsung memanggilnya. Yeo Wool menoleh.

"Yaa!! Lepaskan tangan itu!"


Yeo Wool dengan takut kembali memandang anak itu dan tiba-tiba anak itu berubah menjadi wanita bergaun merah.


0 komentar

Post a Comment

Jangan lupa tinggalkan komentar yha kawan..
Dan bagi kawan2 yang main Twitter boleh kok follow akun kami @Diana_Recap