Thursday, September 13, 2018

Sinopsis 100 Days My Prince Episode 2 Part 3


Sumber: tvN


Yul keluar jauh dari istana. Dong Joo berpendapat kalau sekarang bukan saat yang tepat untuk meninggalkan istana. Yul menjelaskan, ayahnya lemah, takut akan kebencian rakyat. Dan ia juga bertugas meringankan bebannya.

Dong Joo: Untuk berjaga-jaga, aku memerintahkan beberapa penjaga istana untuk mengikuti kita diam-diam.

Yul: Kudengar kemarau membuat seluruh tanah kering, tapi musim semi di gunung ini sungguh menakjubkan.

Dong Joo: Apa rahasia tragis yang Anda ketahui?

Yul: Dong Joo-ya.

Dong Joo: Ya, Yang Mulia.

Yul: Bukankah terkadang kamu bersikap terlalu serius? Jika kamu terus bersikap begini, aku akan menganggapmu tidak nyaman.

Dong Joo: Anda membuatku tidak nyaman setiap kali mengatakan itu.

Yul: Karena kita berada di sini, lupakan urusan istana. Saat kita kembali, akan terjadi pertumpahan darah.


Saat memasuki hutan, ada suara gemerisik di semak-semak. Pengawal menghentikan langkah, namun itu hanya rusa kecil lucu. Mereka pun tenang kembali.


Saat mereka melanjutkan perjalanan, tiba-tiba ada anak panah mengarah ke Yul, beruntung Yul bisa menghindar tepat waktu.


Pasukan pembunuh menunjukkan diri mereka dan satu per satu pengawal Yul roboh karena terkena panah.

Dong Joo: Yang Mulia, berlindunglah.


Yul dan si pembunuh adu panah, mereka bisa menghindari panah tersebt tepat waktu. Tapi pembunuh terserempet panah dan berdarah.


Yul terjatuh dari kuda karena ada yang memanah kaki kudanya.

Dong Joo: Yang Mulia! Yang Mulia. Kita harus pergi dari sini.


Disaat semuanya bertarung, Dong Joo dan Yul melarikan diri. Si pembunuh mengajak dua anak buahnya untuk mengejar mereka.


Sayangnya kaki DOng Joo terkena anak panah dari si pembunuh, tapi mereka tetap harus berlari.


Sampai akhirnya mereka menemukan tempat persembunyian sementara. DIsana Dong Joo mencabut panah yang menancap di kakinya.

Dong Joo: Jika kita menunggu, penjaga istana akan menolong kita. Mereka tidak akan kemari.

Yul: Panah yang diarahkan kepadaku adalah panah yang membunuh tabib wanita itu. Pasti Kim Cha Eon yang mengatur semua ini. Aku membawa lima panah. Jika berhasil mengenai dua orang sekaligus, aku bisa mengalahkan sepuluh orang.

Dong Joo: Ada sekitar 30 pembunuh yang mengincar Anda.

Yul: Kamu sudah lupa? Kemampuan berpedangku seandal kemampuan memanahku.

Dong Joo: Sekarang bukan saatnya menyombong.


Pada akhirnya ketiga pembunuh itu semakin mendekat. Dong Joo menyuruh Yul segera kabur sementara ia akan tetap bertarung di sana.

"Jangan lagi bertarung untukku. Itu perintah."

"Misiku adalah bertaruh nyawa demi melindungi Anda."

"Jangan lagi melindungiku. Mulai saat ini, kamu hanya perlu melindungi dirimu sendiri. Itu permintaan seorang teman."

"Yang Mulia. Maaf. Apa pun yang kukatakan akan membuat Anda tidak nyaman."


Dong Joo malah mengarahkan pedangnya pada Yul.


Akhirnya mereka kabur bersama namun ke arah berlawanan. Satu orang mengejar Dong Joo sementara si pembunuh dan satu orang lagi mengejar Yul.

Dong Joo terkena panah di punggungnya dan bergulingan di lembah, kepalanya terbentur batu, berdarah. Orang itu tidak mengejar lagi karena Dong Joo sudah tidak terlihat.


Sementara Yul terjebak di tebing, ia tidak bisa kemana-mana. Eh tunggu, tapi itu bukan Yul melainkan Dong Joo, jadi mereka berganti baju tadi.


Dong Joo mencoba melawan, ia berbalik untuk memanah si pembunuh, tapi pembunuh lebih cepat, ia terjatuh ke sungai dan hanyut.


Ayah Hong Shim berdiri di benteng, dan tiba-tiba ia berkata kalau ia sudah tidak tahan lagi.


Ternyata Ayah sudah tidak tahan mau buang hajat. Dan saat itu ia menemukan Yul.


Salah seorang pengawal Yul ada yang selamat dan langsung melapor pada Raja.

"Kami diserang saat mendaki. Aku mencari di area itu secara menyeluruh, tapi tidak bisa menemukan Putra Mahkota."


Raja syok banget. Beliau memerintahkan semuanya untuk mengirim pasukan guna mencari putranya.

"Pengadilan Negeri harus mencari tahu siapa yang melakukan ini dan menangkap mereka semua! Aku akan membalas mereka. Aku akan menghancurkan mereka!"

Tapi Kim Cha Eon melarang, banyaknya bencana alam dan kemarau panjang sudah membuat rakyat kesal. Kebencian mereka terhadap Raja sudah melebihi batas. Andai mendengar Putra Mahkota diserang, mereka hanya akan makin kesal, cemas, dan benci.


Raja: Lantas aku harus bagaimana? Wakil Perdana Menteri, ini konspirasi. Ini pengkhianatan!

Koloni Kim Cha Eon mengusulkan untuk menugaskan pasukan diam-diam karena jasad Yul belum ditemukan artinya Yul masih hidup.

Kim Cha Eon: Yang Mulia, rahasiakan masalah ini agar rakyat tidak mendengar. Bagaimana jika menyuruh penjaga untuk menyelidiki secara

diam-diam?

Raja: Aku akan memercayakan ini kepadamu. Cepat ambil tindakan.

Kemudian Kim Cha Eon memerintahkan Menteri Peperangan.


Putri Mahkota berharap Yul kembali, harus kembali dalam  keadaan sudah mati. Ia harus melihat jasad Yul.


Sementara Ratu berdoa agar Yul  tidak boleh kembali.


Hong Shim dibantu Kkeut Nyeo mengemas tanaman herbal kering yang akan dibeli Tuan Park.

Kkeut Nyeo: Hong Shim. Aku sedikit membantumu saat kamu memetik herba ini.

Hong Shim: Jangan cemas. Aku akan menghasilkan banyak uang dan berbagi denganmu.


Hong Shim membawanya seorang diri pada Tuan Park. Tuan Park menghargai Hong SHim sampai menyajikan teh dari Ming yang jauh..

Hong Shim: Tidak perlu repot-repot. Periksalah herbanya. Ini kualitas terbaik dan harganya mahal.

Tuan Park: Berapa banyak yang kamu inginkan?

Hong Shim: 20 yang?

Tuan Park: Bagaimana jika 2.000 yang? Jika kamu mau menjadi milikku, 2.000 yang bukan masalah.

Hong Shim: Maksud Anda, aku harus menjadi selir kelima Anda?

Tuan Park: Kamu akan mengalami masalah jika tidak menikah besok. Jadi, aku hanya ingin menyelamatkanmu.

Hong Shim: Aku sudah bertunangan dengan seorang pria.

Tuan Park: Kamu bisa dipukuli sampai mati karena menunggu seseorang yang tidak pernah kembali.

Hong Shim: Sekalipun benar, itu tidak ada kaitannya dengan Anda.

Tuan Park: Kamu lebih memilih mati daripada menjadi selirku?

Hong Shim: Aku permisi dahulu.

Tuan Park: Jangan melakukan perjalanan yang sia-sia. Aku akan membeli herbamu. Masukkan herbanya ke gudang.

Tuan Park melempar sekantung uang pada Hong Shim.


Hong Shim masuk ke dalam gudang, tapi itu ternyata jebakan. Ia dikurung disana.

Hong Shim: Kenapa kamu mengunci pintunya? Di sini ada orang.

orang yang mengunci: Diam. Jangan membuang-buang tenagamu.

Hong SHim tetap mengetuk meminta pintunya dibuka, lalu terdengarlah suara Tuan Park yang melarang membuka pintu itu apapun yang terjadi.


Paginya, Tuan Park menemui Hong Shim di gudang, ia bertanya, apa Hong Shim sudah berubah pikiran?

"Tidak mungkin."

"Pasti menyenangkan jika kamu sudah sadar."


Ayah membawa Yul pulang dan merawatnya tapi ia semakin khawatir Yul akan mati karena Yul belum sadarkan diri  berhari-hari.

"Aigoo.. Aku tidak tahu dia berasal dari keluarga mana, tapi dia tampak sangat tampan. Lihatlah hidung mancung dan bibir tebalnya. Astaga. Bahkan wajahnya tampak sangat lembut. Bagus sekali."


Akhirnya Yul membuka matanya dan bisa bangun. Ayah membantunya sambil bertanya siapa Yul, nama Yul siapa, tapi Yul hanya diam saja.

Ayah tahu betul Yul pasti lapar, maka ia memberikan bekalnya, nasi kepal.

"Aku tidak suka itu." Tolak Yul.

"Rupanya kamu bisa bicara. Siapa kamu? Di mana tempat tinggalmu? Kamu dari desa mana?"

"Aku.. tidak ingat."

"Astaga. Kepalamu berlumuran darah. Apa kepalanya cedera dan dia menjadi bodoh?"

Yul langsung menatap tajam Ayah.


Tiba-tiba Goo Dol berteriak dari luar memanggil-manggil ayah, ia dengan cemas mengabari kalau Hong Shim akan mati.

"Apa maksudmu?"

"Hari ini adalah akhir bulan. Petugas patroli bilang, mereka akan menghukumnya dengan 100 tongkat dan membawanya."


Mereka bergegas ke kantor pemerintahan. Namun ayah sepertinya memilikii rencana. Ia berbalik melirik gubuk yang ditinggali Yul.


Hukuman Hong Shim sudah dimulai, ini Tongkat ke-29. Tapi Petugas Jo Boo Young menghentikannya, ia bertanya lagi pada Hong Shim, belum terlambat untuk berubah pikiran, hidup Hong Shim akan menjadi jauh lebih baik jika Hong Shim mau. Tuan Park mengasihani Hong Shim dan ingin menjadikannya selir.

"Aku tidak berniat menjadi selir. Kubilang aku sudah berjanji akan menikah dengan seorang pria."

"Maksudmu Won Deuk yang menjalani wajib militer? Bagaimanapun, hari ini adalah akhir bulan. Kamu sungguh ingin hidup setelah membantah perintah Putra Mahkota?"

"Apa Putra Mahkota menyuruh Anda menghukum orang yang tidak bisa menikah?"

"Astaga."

"Aku tidak percaya kepada Anda. Jadi, bawa aku menghadap Putra Mahkota. Tunggu apa lagi? Lanjutkan hukumannya."


Semua yang melihat kasihan melihat Hong Shim.


Tiba-tiba ayah datang dan berteriak menyuruh hukuman dihentikan.

"Hentikan hukumannya. Won Deuk telah kembali. Won Deuk telah kembali dari wajib militer."

"Berani sekali kamu mencoba menyelamatkan dia dengan berbohong?" Tegas Petugas Jo.

"Ini benar."

Lalu Ayah memanggil Won Deuk dengan lantang.


Dan masuklah WOn Deuk dengan sangat berwibawa. Won Deuk yang dimaksud adalah Yul, sang Putra Mahkota yang kehilangan ingatannya.

1 komentar:

  1. lanjutannya ditunggu.. paling seneng baca sinopsis mbak diana 😍
    bacanya ringan

    ReplyDelete

Jangan lupa tinggalkan komentar yha kawan..
Dan bagi kawan2 yang main Twitter boleh kok follow akun kami @Diana_Recap