Thursday, September 13, 2018

Sinopsis 100 Days My Prince Episode 2 Part 2


Sumber: tvN


Di ruangannya, Wakil Perdana Menteri berpikir soal arti tatapan Yul tadi padanya.


Saat itu Putri Mahkota masuk ruangannya, mengadu soal rencananya yang gagal padahal sisa waktunya tidak banyak.

"Ayah paham.. maksud ucapanmu." Jawab Wakil Perdana Menteri.


Hong Shim kembali ke Desa dan ia berpapasan dengan Petugas Park. Petugas Park ketakutan karena meliha Hantu di jalan barusan. Hong Shim tidak percaya, lalu petugas Park menyuruhnya mendnegar dengan baik-baik.

"Tunggu. Dengarkan baik-baik. Kamu dengar itu? Paham maksudku? Semua itu salahmu. Kamu masih melajang dan itulah sebabnya mereka mengirim hantu! Sial!"

Petugas Park langsung melarikan diri.


Hong Shim pulang dan disambut Ayahnya. Ayahnya kelihatan sangat cemas, ia sudah menyiapkan makanan dan menyuruh Hong Shim segera makan.

"Ayah menungguku padahal belum makan?"

"Tentu saja tidak. Ini makan malam kedua ayah. Makanlah."

"Terima kasih, Ayah."


Ayah meminta Hong Shim berhenti datang ke Hanyang mulai bulan depan, toh kakak Hong Shim tidak muncul kan? Itu sebabnya Hong Shim pulang sendirian kan? Ayah meminta Hong Shim berjanji sekarang.

"Tidak mau."

"Kamu tidak perlu mencemaskan kakakmu. Beberapa pria tua datang dan mengomeli ayah soal pernikahanmu. Jika terus begini, ayah takut akan terjadi hal buruk."

"Apa yang Ayah cemaskan? Aku sudah memberi tahu mereka soal Won Deuk."


Dong Joo menghawatirkan Yul yang tidak tidur semalam dan sekarang malah berlatih memanah. Dong Joo bertnaya, apa Yul sudah mengetahui pelakunya dari busur dan panah?

Yul membawa busur hadiah Wakil Perdana Menteri. "Dong Joo. Kalajengking yang menyeberang sungai dengan naik ke punggung katak menyengat katak itu. Sudah jelas mereka berdua akan tenggelam dan mati. Kenapa dia membunuh katak?"

"Entahlah. Pertanyaan itu sulit."

"Aku harus tahu jawaban dari pertanyaan sulit itu."


Keahlian panah Yul memang sungguh menakjubkan, ia bisa membelah anak panah yang sudah tertancap. WOW

Yul melanjutkan, "Ada sesuatu yang harus segera kamu selidiki."


Dong Joo mendatangi biro obat untuk meminta Jurnal mereka. Tapi tabib hanya bisa memberikan sebagian yang tersisa karena dua hari lalu ada yang datang dan mengambil semua jurnal mereka.


Dong Joo melaporkan apa adanya pada Yul. Yul bertanya siapa orangnya.


Yul melihat Je Yoon menuliskan jawaban untuk pertanyaannya, ia mendekat.


Yul berkata kalau jawaban Je Yoon benar dan salah. Je Yoon hanya menunduk hormat dan Yul akan pergi, tapi Dong Joo mengatakan siapa Je Yoon dan itu membuat Yul memandang Je Yoon lagi.

Yul: Kenapa kamu mengambil jurnal farmasi?

Je Yoon: Aku diminta menyelidiki pembunuhan tabib wanita yang terjadi baru-baru ini.


Yul bicara berdua dengan Je Yoon, meminta Je Yoon mengatakan apa yang ditemukannya.

"Itu bukan kejahatan karena emosi. Kejahatan karena emosi cenderung impulsif dan intens. Sebagian besar kematian disebabkan oleh sayatan pedang atau pencekikan. Pembunuhan itu juga tidak disebabkan oleh kebencian. Tabib wanita itu tidak punya teman dekat atau keluarga dan tidak berkontak dengan tetangga. Tidak ada yang mendendam kepadanya. Maka, dugaanku.. itu adalah pembunuhan terencana yang disebabkan oleh masalah internal di Balai Pengobatan Kerajaan. Jadi, aku harus meneliti jurnal farmasi."


Suara Je Yoon: Tabib Song Sun adalah pemula yang masih menjalani pelatihan. Dia tidak bertugas di sif malam. Tapi suatu hari, terjadi sesuatu kepada tabib wanita dalam sif malam dan Song Sun menggantikan dia.


Tabib pria yang berjaga dengan Song Sun mengantuk, jadi ia pamit pada Song Sun untuk beristirahat. Setalhnya ada suara wanita yang memanggilnya dari luar, menyuruhnya bergegas.


Kembali pada penjelasan Je Yoon, "Tanggal 14 Februari. Jurnal ini tidak menuliskan kejadian hari itu secara detail. Jadi, aku tidak bisa yakin. Tapi keesokan harinya, Song Sun ditugaskan ke Gyoyeondang. Kamar Putri Mahkota. Itu kenaikan jabatan yang sangat cepat. Sangat tidak biasa. Pada malam dia dibunuh, ada yang melihat dua pria berada di rumahnya."

Yul melarang Je Yoon menyelidiki lebih jauh, melaang mencampuri kasus ini. Dan Yul meninggalkan ruangan.


Yul berpikir sendiri, "Andai Kim Cha Eon yang berusaha meracuniku, Putri Mahkota jelas akan terlibat. Lalu apa yang dia rahasiakan dariku? Kenapa dia berusaha membunuhku? Dia memanggil Seong Sun pada tanggal 14 Februari. Mereka bertemu di hari itu untuk merencanakan peracunanku."


Pada malam itu Ratu memang memanggil Song Sun dan memerintahnya untuk mencuri daftar pantangan Yul secara diam-diam.


Yul berpikir lagi, "Putri Mahkota membatalkan pemeriksaan fisik yang dijadwalkan untuk keesokan harinya. Dia menunjuk Song Sun sebagai tabib pribadinya. Apa karena..."

Yul menengok ke arah jawaban yang ditulis Je Yoon, "Bersembunyi", Ia tersenyum.

Kilas Balik..


Yul membaca catatan medis Putri Mahkota,

Halaman pertama: Sibuk menyiapkan upacara sutra, tidak ada pemeriksaan. Ditanda tangani oleh Kim Nae Cheon.

Halaman Selanjutnya: Meninggalkan istana untuk menjenguk kerabat yang sakit. Tidak ada pemeriksaan. Ditanda tangani oleh Kim Nae Cheon."

Yul: Dia harus menjalani pemeriksaan setiap bulan atau lebih, tapi terus-menerus melewatkannya.

Kilas Balik Selesai..


Dong Joo bertanya, apa sekarang Yul tahu jawaban atas kecurigaannya?

"Mungkin selama ini aku sudah tahu jawabannya." Jawab Yul.


Putri Mahkota kelihatan kesal saat membaca buku, ia menutupnya dengan keras lalu dari luar ada pengumuman atas kedatangan Yul. Putri Mahkota pun segera berdiri untuk menyambut Yul.


Putri Mahkota bertanya ada apa datang tanpa pemberitahuan? Yul menjawab ia terlalu tidak sabar untuk mengabari dahulu dan meminta dayang meninggalkan mereka berdua karena ada sesuatu yang perlu mereka bicarakan.

Dayang menabrak pintu saat akan keluar. Putri Amhkota menjelaskan kalau dayangnya sangat terkejut atas kedatangan Yul.


Yul: Kamu juga tampak terkejut. Wajahmu tampak pucat.

Putri Mahkota: Kamu tidak senang melihatku?

Yul: Ya. Itulah sebabnya aku menyiapkan sesuatu. Kasim Yang, bawa masuk.


Kasim Yang mengiyakan dan masuklah seorang tabib wanita yang membawa sesuatu. Putri Mahkota sangat terkejut tapi mencoba tetap tenang, Yul membaca gelagat itu.

Putri Mahkota beranya kenapa Yul memanggil tabib wanita. Yul beralasan kalau Putri Mahkota belakangan ini tampak pucat dan lemah dan kebetulan ia tahu Putri Mahkota melewatkan dua pemeriksaan fisik bulanan. Ia menjadi cemas jadi mengajak tabib kesana.


Yul memerintahkan tabib untuk memeriksa denyut nadi Putri Mahkota, tapi Putri Mahkota malah menyembunyikan tangannya. Yul kembali memerintah. Tabib akan meraih tangan Putri Mahkota, tapi Putri Mahkota menghentikannya dengan berkata kalau pencernaannya bermasalah dan itu akan terlihat dalam denyut nadinya. Ia akan memeriksakannya saat merasa lebih baik agar tidak lagi membuat Yul cemas.

Yul menyeringai, "Ratu menyuruhku menjagamu dengan baik. Hari ini aku memutuskan untuk berusaha melakukannya. Sayang sekali."

"Maaf."

Dan Yul menyuruh tabib keluar.


Yul akan pergi juga tapi ia berbalik dan memanggil Putri Mahkota.

"Kita bahkan tidak pernah bergandengan, tapi kamu hamil? Kenapa kamu sangat terkejut?"

"Aku.. tidak paham maksudmu."

"Temanku bercerita, istrinya hamil padahal mereka tidak pernah tidur bersama. Dia bertanya harus berbuat apa atas perbuatan jahat istrinya itu. Bagaimana menurutmu?"

"Bagaimana kamu bisa memintaku menjawab insiden tragis itu?"

"Tragis? Bagaimanapun, itu harus dicatat dalam sejarah. Dia harus ditulis sebagai wanita sundal yang mempermalukan keluarganya."

"Seandainya menjadi temanmu, apa yang akan kamu lakukan kepada wanita itu?"

"Tamatlah riwayatmu dan keluargamu". Sebelum mengatakan itu, aku akan memberinya waktu untuk mengambil keputusan karena tetap ada waktu yang kami jalani bersama."

"Kamu begitu bijak, Yang Mulia."

"Aku juga putra mahkota yang malang."


Raja rapat dengn 3 pejabat. Wakil Perdana Menteri (Kim Cha Eon), Jung Sa Yeon dan satu lagi gak tau namanya. Raja bertanya soal lukisan naga, apa sudah siap. Lukisannya sudah siap, dilukis dengan sangat baik hingga naganya tampak terbang ke langit dalam sekejap, Cara kali ini pasti akan efektif.

Rja: Harus begitu. Hujan harus turun secepatnya. Aku merasa terbebani.

Kim Cha Eon: Yang Mulia, kurasa sebaiknya Anda tidak mengikuti ritual hujan yang akan datang.

Raja: Apa maksudmu?

Jung Sa Yeon: Wakil Perdana Menteri.

Kim Cha Eon: Kita sudah melakukan banyak ritual. Tapi jika kali ini hujan tidak turun juga, apa yang akan terjadi?


Kasim Yang menyampaikan pada Yul kalau Raja ingin segera bertemu, penting katanya.

"Waktu yang tepat." Jawab Yul.


Saat Yul datang, Raja tampak kesal. Raja mengatakan kalau Yul harus menggantikannya dalam mengikuti ritual. Yul meminta Raja membatalkan perintah itu.

"Membatalkan perintah ayah?"

"Maaf, tapi aku harus menyelesaikan masalah sulit."

"Sekarang kamu berusaha mempermalukan ayah?"

"Ayah."

"Negeri ini kacau karena sering terjadi bencana alam. Ayah mendapat banyak sekali keluhan yang mencemaskan kelaparan setelah terjadi kekeringan. Ada banyak kebencian dan kritik terhadap ayah. Kamu ingin membantah perintah ayah? Ini lebih tidak setia daripada hal lain."

"Kenapa Ayah bahkan tidak menanyakan alasannya?"

"Sekarang apa yang lebih penting daripada ritual hujan?"

"Sebelum menjadi putra mahkota, aku adalah putra Ayah. Bisakah ayah peduli dengan kesulitan besar yang kuhadapi?"

"Walau mungkin kamu mengalami kesulitan, pasti tidak lebih sulit daripada penderitaan ayah karena keluhan ini. Baiklah. Katakan kepada ayah. Apa yang membuatmu tidak mengikuti ritual itu? Jawab ayah."

"Bukan apa-apa. Dibandingkan dengan bagaimana Ayah menanggung seluruh beban negeri ini, kesulitanku sangatlah mudah."


"Kamu pasti meremehkan ayah. Sejak hari itu 10 tahun yang lalu, kamu menatap ayah dengan tatapan itu. Tatapan itu meremehkan ayah yang sudah membunuh ribuan orang agar bisa bertakhta. Karena kepribadian kejam raja sebelumnya, sehari pun ayah tidak bisa bernapas lega. Setelah membunuh Kyung San, berikutnya Raja menargetkan ayah. Andai malam itu ayah tidak menghunuskan pedang, kita berdua tidak akan bisa hidup sampai sekarang. Kita harus membunuh agar tidak dibunuh. Dan kamu... Setidaknya kamu.. tidak berhak membenci ayah."

"Tidak. Aku akan membenci Ayah. Setidaknya untuk hari ini, aku akan membenci Ayah sepuasku sebagai putra Ayah. Tapi setelah hari ini, aku tidak akan memandang Ayah sebagai putra Ayah. Jadi, aku tidak akan lagi membenci Ayah. Aku.. akan mengikuti ritual hujan atas perintah Ayah. Begitu aku kembali dari ritual, semua yang kulakukan adalah demi negeri ini sebagai Putra Mahkota. Kumohon.. jangan menghentikanku."

Yul menunduk hormat lalu pergi.


Yul kembali menulis dibukunya, "Aku putra yang keji. Sejak aku masuk ke istana ini, kebencianku terhadap ayahku tidak sirna sedikit pun."


Yul mengeluarkan pita Yi SUh dari dalam lacinya, "Aku tahu kamu tidak akan hidup kembali. Hatiku juga tidak akan menjadi lebih tenang. Tapi.. aku tetap harus membalas dendam. Aku akan membuat mereka bertanggung jawab karena membunuhmu dan mempermalukanku apa pun caranya."


Putri Mahkota mengeluarkan bungkusan kain putih.

Kilas Balik..


Bungkusan itu pemberian ayahnya, isinya sulfur, sebenarnya Putri Mahkota yang meminta ding karena ia hamil. Kim Cha Eon terkejut jelas.

"Itu bukan bayi Putra Mahkota. Apa kamu.. akan bunuh diri dengan ini?"

" Beri aku waktu. Aku akan mencari cara untuk melindungi keluarga kita yang Ayah besarkan dengan bertaruh nyawa. Tapi jika akhirnya gagal, aku akan menyelesaikannya dengan membunuh diriku sendiri atau Putra Mahkota."

"Siapa.. ayah dari bayi itu?"

"Ayah tidak perlu cemas. Siapa pun ayahnya, bayi ini akan menjadi putra mahkota berikutnya."

Kilas Balik Selesai..


Mengingat perkataan Putra Mahkota tadi, Putri Amhkota membatin, akankah akhirnya ia harus memakai racun ini?

Dayang masuk mengabari perihal Yul yang akan menghadiri ritual meminta hujan.

"Syukurlah." Jawab Putri Mahkota dan ia meminta dayang membuang racun itu.


Batin Putri Mahkota: Andai saja sikapmu lebih hangat kepadaku. Karena memulai semua ini, kamu tidak berhak membenciku atas tindakanku.


WOWOWOWO... Kim Cha Eon beneran majikan si pembunuh itu. Malam ini ia menemui si pembunuh dan berkata kalau ia ada misi penting.

"Di mana Putra Mahkota akan dipenggal kepalanya?" Tanya si pembunuh.

"Kenapa kamu tidak pernah menanyakan alasannya?"

"Aku tidak butuh alasan. Tapi.. kali ini aku butuh janji."


Ayah Hong Shim bermimpi buruk sepertinya dan parahnya ia mengagetkan Hong Shim.

"Ada apa? Ayah bermimpi buruk?"

"Ya. Mimpi itu sangat mengerikan! Kamu sedang berjalan dan ada anjing tua yang meneteskan air liur sedang membuntutimu. Ayah mengayunkan tongkat untuk mengusirnya, tapi anjing itu tidak mau bergerak! Ini gawat.
 Bagaimana ayah bisa bermimpi seburuk itu?"

"Inilah yang disebut mimpi konyol dan mimpi konyol tidak pernah terwujud."

"Ya, tentu saja."


Tiba-tiba ada tamu. Tamu mereka adalah Park Sun Do (panggil Tuan Park aja ya). Tuan Park juga membawakan bingkisan.

Ayah: Apa ini?

Tuan Park: Aku membawa kue madu dan kesemek kering. Semoga makanan itu cocok dengan seleramu.

Ayah: Untuk apa Anda membawa benda berharga ini untuk kami?

Tuan Park: Banyak orang menderita karena kekeringan saat ini. Mana mungkin aku tidak cemas? Guna mengurangi kesulitanmu, aku kemari membawakan hadiah.

Hong Shim: Tapi ini tidak perlu.

Tuan Park: Jangan bilang begitu. Makanan dan camilan lezat terasa lebih enak saat dibagi bersama orang lain.

Hong Shim: Maka aku akan membagi camilan ini dengan tetanggaku.

Tuan Park: Jangan! Kenapa membagi makanan yang sedikit ini? Makanlah semuanya sendiri. Katakan jika sudah habis dan aku akan membawakannya lagi.

Ayah: Bukankah tadi Anda meminta kami berbagi makanan?

Tuan Park: Uhuk uhuk.. Tenggorokanku kering. Ambilkan air minum.

Ayah: Baik, Tuan.


Tuan Park ini matanya jelalatan deh sama Hong Shim. Saat ayah masuk untuk menyiapkan tempat, ia mendekati Hong Shim, pura-pura menanyakan tanaman herbal yang Hong Shim kumpulkan, ia akan membelinya.

0 komentar

Post a Comment

Jangan lupa tinggalkan komentar yha kawan..
Dan bagi kawan2 yang main Twitter boleh kok follow akun kami @Diana_Recap