Wednesday, September 12, 2018

Sinopsis 100 Days My Prince Episode 1 Part 1

Sumber : tvN


Seorang putra mahkota berwajah dingin menengadahkan tangannya disaat hujan turun. Sesaat kemudian ia berjalan ditengah hujan sambil meminta kasimnya mengambilkan jubahnya. 


Putra mahkota berkuda setelahnya dan di tengah jalan ia dijegat seorang prajurit.

"Yang Mulia, Anda tidak boleh ikut berperang."

"Minggir."

"Anda bisa saja meninggal."

"Aku tahu... aku akan meninggal."

dan sang Putra Mahkota tetap memacu kudanya menuju medan perang.


Scene beralih pada seorang anak kecil yang berdiri mengikat kepalanya dengan kain putih dan dia berdiri diatas batu seraya bersuara lantang.

"Aku mungkin muda, tapi aku seorang pejuang pemberani dari Joseon. Aku akan menjatuhkan musuhku dan menyelamatkan rakyat!"

Seorang anak yang paling dekat dengannya berlutut saat memberikannya pedang kayu dan memanggilnya Jendral dengan hormat.

Anak itu menerima pedangnya dan memngumumkan memulai perang dengannya. Kemudian kerumunan budak kecil berlari dan anak itu mengejar mereka bersama anak yang memberinya pedang tadi.


Seorang budak tertinggal dari gerombolan dan anak tadi memukulnya dengan pedang dari belakang. Sang budak pun menangis.

"Seorang barbar tidak boleh menangis. Lee Man Joo, kau akan merasakan pedangku..." Kata anak itu sambil mengangkat pedangnya siap ia pukulkan lagi, tapi ia berhenti saat ada pedang mendarat dikepalanya.


Anak itu marah karena ada yang berani memukulnya, tapi ia terdiam saat berbalik dan melihat pelakunya adalah seorang gadis cantik.

Gadis cantik itu senang karena menemukan pelaku yang selalu membuat anak-anak memar. Anak itu menyangkal, ia bukan pengganggu, mereka hanya mempraktekan peperangan.

"Kau tidak pantas memainkannya. Mereka yang menyakiti orang lain itu bodoh. Mereka bukan prajurit."


Tentu saja sang anak tidak terima dipanggil bodoh, "Kau tahu dengan siapa berbicara?"

"Kau anak orang kaya yang bodoh yang memukul budaknya." Jawab gadis cilik itu.

Sang anak mengangkat pedangnya siap memukul, tapi gadis itu lebih cepat dalam mengarahkan pedangnya kepada sia anak, "Ini peringatan terakhirmu. Jangan main-main dengan menyakiti anak lain."


Gadis itu lalu mengajak anak yang dipukul tadi pergi.

Si anak heran melihat gadis itu yang malah meraih tangan seorang budak. Ia lalu meminta Dong Joo (temannya/pengawalnya) untuk main bermain "Detektif" saja.


Seorang bangsawan menemui adik Raja dengan membawakan batu yang  ia temukan. Batu itu bertuliskan aksara china "yong" yang artinya "tidak berguna". Adik Raja gugup mendengarnya, agak marah sedikit karena orang itu berani bicara omong kosong di siang bolong?

"Keadilan.. tidak harus dibahas di malam hari. Saya persembahkan untuk Anda.. tahta kerajaan. Namun, Istri Anda saat ini tidak boleh menemani Anda."

"Kau ingin aku meninggalkan istriku... dan merebut tahta saudaraku? Kau pikir aku akan melakukannya?!"

"Orang yang takut pada harimau tidak akan bisa... membesarkan anaknya."


Anak tadi menyembunyikan pedangnya di kolong rumah, namun ia ketahuan ibunya dan memanggilnya dengan keras, "Yul". Ibunya marah karena Yul main bukannya membaca buku.

Yul membela diri, "Ayah berkata, "bermainlah. Menjadi pintar hanya akan mendapatkan sisi lemahmu sebagai Raja."."

Sang ibu memberi penjelaskan, "Tetap saja. Kau harus menyelesaikan "Pembelajaran Dasar"."

"Jadilah sebagaimana mestinya. Orang-orang yang menderita harus tetap menjadi prioritas."

"Itu sangat mulia, Jendral." Sang ibu tersenyum sambil menghormat saat menyebut "Jendral."

Ibu kemudian menyuruhnya masuk dan mengganti baju.


Yul menurut dan berlari masuk, namun ia tak sengaja menabrak bangsawan tadi. Yul segera meminta maaf atas kesalahannya.

"Anda harus selalu berhati-hati. Anda tidak pernah tahu apa yang akan terjadi dalam hidup." Jawab sang Bangsawan.

Lalu sang bangsawan menunduk hormat pada Ibu Yul. Jadi Yul adalah putra Adiknya raja.


Saat bangsawan itu pergi, Ibu Yul tampak gelisah.

a, namanya Yoon Yi Suh.

Yul tidak heran melihat keahlian pedang Yi Suh sekarang setelah mendengar semuanya.

Dong Joo: Saya penasaran. Apa itu cinta pada pandangan pertama?

Yul: Tentu saja tidak! Aku sedang memikirkan cara untuk menghadapinya.

Dong Joo: Tentu saja. Dia memukul kepala bangsawan dan harus bertanggung jawab.

Yul: Tentu saja.


Yul dan Dong Joo terlihat berjalan bersama Yi Suh. Yi Suh dan Dong Joo mendapat kabar dari Yul kalau seseorang mambawa Mak Gae. Yi Suh menatap tajam mereka saat mengonfirmasi berita itu. Yul takut sampai sembunyi dibelakang Dong Joo.

Dong Joo: Kita harus cepat. Katanya dia kanibal.

Yul: Benar! Dia memakan semuanya termasuk kepala.

Yi Suh pun membulatkan tekat untuk mendatangi tempat yang dimaksud. Yul dan Dong Joo tersenyum puas.


Mereka memasuki sebuah rumah di hutan. Benar-benar seperti rumah kanibal karena ada darah-darahnya. Yi Sul memimpin jalan, ia memanggil-manggil Mak Gae.

Yul dibelakang menginjak sesuatu, ia ketakutan melihatnya, Dong Joo juga.


Pemilik rumah muncul dengan membawa kapak. Penampilannya sangat seram, mirip kanibal banget. Ia berjalan mendekati Yi Suh. Yi Suh mundur dan tersandung sampai jatuh. Dong Joo menarik Yul untuk kabur. Dong Joo menolak, tapi ia takut juga dan akhirnya ikut kabur. Yi Suh berteriak saat orang itu semakin mendekat.


Malamnya, Yul tidak bisa tidur memikirkan Yi Suh, ia juga tidak konsen belajar. Lalu terdengar suara petir, Yul bangkit keluar.


Yul berlari di tengah hutan menuju Yi Suh sampai ia tidak lihat ada kayu dan berakhir jatuh karena tersandung. Lengannya terluka, tapi ia tetap kembali berlari menuju rumah itu.


Yul sampai di rumah itu, pelan-pelan ia membuka gerbang lalu masuk. Karena matanya memandang ke depan, ia tak sengaja menginjak tulang dan menimbulkan suara. Pintu rumah terbuka dan terlihatlah wajah garang pemiliknya. Yul terkejut sampai jatuh.


Ketegangan sirna saat Yi Suh memunculkan diri dari pintu yang terbuka. Yi Suh baik-baik saja, ia malah diberi makan ayam oleh pemilik rumah yang katanya kanibal. Yul pun bisa bernafas lega.


Ternyata orang itu tidak seperti rumor yang beredar, dia baik hati banget. Dan sebelum pergi, Yi Suh membantunya mengikat rambut serta berpesan agar orang itu selalu tersenyum karena dengan begitu, tidak menyeramkan lagi.


AKhirnya Yi SUh dan Yul pulang bersama. Yul heran melihat Yi SUh yang seorang gadis tapi tidak takut apapun. Yi Suh menjelaskan kalau Ahjusshi tadi tidak menakutkan, hanya saja kerjaannya sulit.

Yul: Tetap saja, bagaimana bisa kau makan dengan seorang petani? Itu bertentangan dengan adat.

Yi Suh: Ayahku pernah berkata, "Seorang pendekar melatih ilmu pedang untuk melindungi orang-orang. Siapapun itu, tidak hanya bangsawan."

Yul: Apa?

Yi Suh: Kau tidak mengerti karena kau bodoh 'kan?



Yul menggaruk kepala karena ia memang tidak mengerti. Yi Suh lenjut jalan dan tiba-tiba ia terpeleset. Yul denbgan sigap menarik tangan Yi Suh agar tidak jatuh.

"Kau bilang aku bodoh, tapi kau lebih bodoh. Tanahnya basah.. kau harus hati-hati melangkah." Kata Yul dengan canggung dan segera melepaskan tangan Yi Suh.

Yi Suh melihat darah di tangan Yul. Yul sok keren dengan berkata ia tidak merasa sakit. Tapi ia menjerit juga saat Yi Suh menekan lukanya.


Kemudian Yi Suh menggunakan pita rambutnya untuk mengikat luka Yul agar darahnya berhnti mengalir.


Setelahnya mereka berbincang, Yul heran melihat Yi Suh tidak marah padanya padahal ia membujuk Yi Suh ke rumah itu dengan tujuan untuk membodohi Yi Suh.

Yi SUh menjawab sambil menggelung rambutnya menggunakan ranting pohon yang berbunga.

"Tidak benar jika marah pada seseorang yang sudah bertobat."

"Analek? Lupakan. Mencius (Meng-Tse)... pasti tidak meninggalkan hal seperti itu. Zhu Xi? Jadi itu salah satu ajarannya." Yul mencoba menebak.

"Kau belum membaca bukunya 'kan? Bagaimana mungkin kau belum membacanya pada usiamu?"


Yul mengalihkan pembicaraan dengan menyebut bunga-bunga aprikot yang sangat harum. Yi Sul kembali menertawainya karena diatas mereka itu bunga sakura. Yul hanya terdiam, tapi lama-lama ia tersenyum saat melihat Yi Suh.


Mereka melanjutkan perjalanan dibawah bunga sakura. Tapiyang menjadi fokus Yul bukan bungaya, tapi Yi Suh.


Yi Suh: Mana yang lebih kau sukai, hujan salju atau bunga?

Yul: Aku... menyukaimu. Aku ingin... menikahimu.

Yi Suh terkejut mendengarnya, tapi suasana romantis mereka segera berubah saat terdengar dari kejauhan beberapa orang memanggil-manggil Yi Suh.


Yi Suh menyuruh Yul segera pergi karena ayahnya sangat ketat. Yul tenang karena ia juga selalu dihukum ayahnya. Yi Suh pun menyueuh Yul pergi, ia janji tidak akan mengadukan Yul.


Lalu Yi Suh berlari ke kerumunan orang yang memanggil-manggilnya. Diantara mereka ada ayahnya yang sangat senang melihat Yi SUh dan segera memeluknya, juga ada kakaknya.

Yul tersenyum melihat mereka, "sungguh Keluarga yang sangat harmonis." Ucapnya lirih.


Setelah pertemuannya dengan Yi Suh, Yul menjadi semangat belajar. Kali ini ibunya menemaninya dan Yul bercerita panjang lebar.

Yul: Aku khawatir. Siapa yang akan bersedia menikahi gadis pemberani sepertinya? Aku yakin dia tidak akan menikah.

Ibu: Namun, dia cukup mengesankan, Melihat bagaimana dia membuatmu tertarik pada buku.

Yul: Bukan karena gadis itu. Aku menyadari pentingnya belajar.

Ibu: Benarkah? Ngomong-ngomong, apa dia cantik?

Yul: (Sangat semangat) Tentu saja, aku belum pernah melihat seorang gadis cantik...

Namun Yul segera sadar kalau ia sudah menunjukkan perasaannya yang sebenarnya, ia malu sampai menyembunyikan wajahnya.

Ibu hanya tersenyum. Ibu berkata akan pergi berdoa di bait suci selama beberapa hari. Yul akan ikut, tapi ibu malah memberikan pita Yi Suh.

"Ini. Aku sudah mencucinya, kembalikan padanya."

Yi Suh sangat senang menerimanya. Ia mengurungkan niatnya untuk ikut ibu berdia, ia akan mengembalikan pita itu pada pemiliknya saja.

Yul: Aku akan fokus membaca... sampai kau pulang, Ibu.

Ibu tersenyum.

Yul menepati janjinya, ia sungguh rajin belajar, bahkan tidak meninggalkan kamarnya sampai malam, ia terus membaca dan menghafal berhari-hari.

Setelah ia membaca semua bukunya, ia tersenyum lebar dan akan keluar dari kamarnya, tapi ia teringat larangan ayahnya yang tidak memperbolehkannya keluar kamar malam ini apapun yang terjadi. Tapi ia tidak peduli dan tetap keluar.


Yul ke rumah Yi Suh, Mak Gae membiarkannya masuk tapi meminta Yul berjanji untuk tidak mengatakanpada siapapun kalau ia membiarkannya masuk. Yul membalas kebaikan Mak Gae dengan berjanji akan menjadikan Mak Gae seorang jendral saat bermain lain kali. Mak Gae sangat senang lalu meninggalkan Yul.


Yi Suh heran melihat Yul, bagaimana bisa masuk? Yul menjawab enteng, ya lewat gerbanglah. Yi SUh tersenyum, mustahil.


Yi Suh melihat sekelebat ada orang mendekat, lalu ia segera menarik Yul untuk bersembunyi. Yi SUh tak menyadari kalau Yul tersenyum karena tangannya ia pegang.

"Ayahku memberi perintah tegas agar tidak ada yang diizinkan masuk ke rumah hari ini. Jika seseorang tahu kau ada di sini, semua pelayan akan dimarahi." Jelas Yi SUh.

Yul tersenyum, ia pamer kalau ia membaca "Pembelajaran Dasar" dalam 10 hari. Yi Suh tersenyum dan membelai kepala Yul, "Si Bodoh datang jauh-jauh ke sini untuk menyombongkan itu?" tanya Yi SUh.

"Aku datang untuk memberimu sesuatu."

Belum sempat Yul mengeluarkan pita Yi Suh, terdengar suara gaduh di luar, pintu gerbang digedor.

"Buka pintunya! Perintah Raja!" Teriak oranng di luar.

Yi Suh pun meninggalkan Yul untuk memeriksa, ia melarang Yul pergi kemanapun, disana saja.


Yi Suh mengkode para pelayan untuk menjawab panggilan dari luar. Pelayan akan membuka pintu, tapi orang diluar sudah tidak sabar dan akhirnya merusak pintu.

Pimpinan orang-orang itu bertanya dimana tuan rumah. Pelayan menjawab tidak tahu dan orang itu langsung menebas pelayan itu hingga meninggal.


Yi SUh berteriak ketakutan sampai terdengar oleh Yul yang sedang tersenyum melihat pita Yi SUh di tangannya.

Yul mengintip dan ia melihat Yi Suh dipojokkan oleh orang-orang itu.


Yi SUh dengan berani bertanya apa yang orang-orang itu lakukan. Orang itu memastikan, apa Yi SUh adalah putri Yoon Boo Joon? Yi SUh dengan tegas membenarkan.

Orang itu mengarahkan pedang pada Yi SUh, tapi kemudian Ayah Yi Suh (Tuan Yoon) muncul dan menepis pedang orang itu.


Orang itu berkata kalau ia mendapatkan perintah Raja untuk mengeksekusi pengkhianat.

Tuan Yoon: Bukan Raja yang memberi perintah itu. Orang yang memberi perintah itu... dan orang-orang yang melaksanakannya. Kau-lah pengkhianatnya.


Tuan Yoon kemudian berduel dengan orang itu. Yi Suh mundur saat beberapa prajurit pendekatinya, untungkan ada kakaknya yang muncul dan segera melindunginya dari para prajurit itu.

Sementara Yul hanya bisa menyaksikan, tidak bisa berbuat apa-apa.


Orang-orang Tuan Yoon bergabung. Tuan Yoon memerintah sang putra untuk melindungi Yi Suh. Tuan Yoon menyuruh mereka segera pergi. Yi Suh enggan, tapi kakaknya menariknya.

Dan pertarungan dilanjutkan. Tuan Yoon kena tusukan pedang setelah Mak Gae gagal melindunginya. Mak Gae meninggal.


Yi SUh terus meronta sambil memanggil ayahnya. Tapi kekuatan kakaknya lebih besar.


Tuan Yoon akan dieksekusi oleh orang tadi berhubung sudah tidak berdaya, tapi seseorang datang menghentikannya.

Orang itu adalah bangsawan yang menemui ayah Yul, ia mengatakan bukan begitu cara memperlakukan bangsawarn.

"Aku pikir... kau temanku." Jawab Tuan Yoon dengan sisa kekuatannya.

"Itu sebabnya aku datang ke sini untuk melihatmu pergi. Aku harap kau meninggalkan dendammu. Dan jangan khawatir tentang anak-anakmu. Mereka akan segera menyusulmu."

"Beraninya kau!"


Orang itu menusukkan pedangnya ke dada Tuan Yoon sebelum Tuan Yoon menebasnya. Yul sangat terkejut melihatnya.


Orang itu lalu memerintahkan anak buahnya untuk membunuh semua orang yang ada di rumah itu. Yul keluar dari persembunyiannya. Ia berteriak menyuruh mereka berhenti sekarang juga, ia mengumumkan siapa dirinya.

"Aku Yi Yul, Pangeran Neungseon! Jika kau mengejar mereka, sebagai anggota keluarga kerajaan, aku akan menghukummu."


Tanpa berkata apapun, orang tadi menggendong Yul menjauh. Yul hanya bisa berteriak meminta dilepaskan.


Yul dipulangkan ke rumah ayahnya oleh orang itu dan saat melihat ayahnya, ia langsung mendekat. Ayah marah kerena Yul melanggar larangannya.

Yul mengadukan perihal orang itu yang telah membunuh Tuan Yoon. Yul meminta ayahnya menolongnya, tapi ayahnya hanya memerintahkannya untuk masuk kamar, SEGERA!


Orang itu mendekat, Yul langsung meringsut dibelakang ayahnya, Yul berpikir orang itu akan membunuh mereka sekeluarga.

Orang itu memegang pedangnya dan menghunusnya dari tempatnya. Yul tidak berani melihat, ia makin merapat pada ayahnya.

Tapi ternyata orang itu malah berlutut di depan ayahnya.

"Saya membunuh mereka semua seperti yang Anda perintahkan. Untuk saat ini, dunia seutuhnya milik Anda, Yang Mulia (Raja)."

Semua orang berlutut pada Raja yang baru.


Dengan begitu Yulotomatis menjadi Putra Mahkota. Yul menanyakan dimana ibunya saat para dayang menyuruhnya berganti pakaian. Dayang menjawab ibunya akan hadir saat upacara penobatan. Yul tidak mau berganti pakaian sebelum ibunya tiba.


Sebelum upacara penobatan, Raja mengatakan kekhawatirannya pada orang itu, beliau khawatir tifak bisa menangani semua politik.

"Satu-satunya kebaikan yang dimiliki raja adalah martabat dan itu saja. Politik adalah sesuatu hal rendahan yang harus aku urus."

"Kau melayaniku dengan baik. Apa yang kau inginkan?"

"Untuk menjadi besan Anda (Besan raja sangat kuat)."

"Kau menginginkan anakku?"

"Saya menyesal mengatakan itu.. saya memberikan kabar buruk pada hari yang baik. Istri Anda saat ini terpeleset dan meninggal di sungai dekat kuil."

"Tetap rahasiakan sampai penobatanku selesai."

"Tentu. Mari kita masuk ke dalam."


Saat mereka berbalik, mereka melihat Yul. Yul snagat syok mendengar kabar barusan, artinya ibunya..


Yul langsung berlarikeluar memanggil-manggil ibunya sambil menangis. Dua dayangnya mengikutinya.


Yul berhasil ditangkap oleh dua dayangnya. Ia meronta minta dilepaskan, ia mau pulang, ia mau menemui ibunya.


Kemudian orang itu mendekat dan menyuruh dayang melepaskan Yul. Orang itu memberi penjelaskan kalau Yul adalah pangeran masa depan kerajaan ini.

"Seorang pangeran tidak boleh menangisi hal sepele."

"Diam! Aku tidak ingin menjadi pangeran dengan alasan apapun."

Orang itu mencengkeram kedua bahu Yul, "Menangislah sepuasnya. Hari ini adalah satu-satunya kesempatan Anda untuk melakukannya."


Lalu orang itu meninggalkan Yul. Yul terpukul, ia berteriak keras sambil menangis.

"Ibu! Ibu! Aaaaa!! Aku ingin pulang! Aku ingin pulang!"

0 komentar

Post a Comment

Jangan lupa tinggalkan komentar yha kawan..
Dan bagi kawan2 yang main Twitter boleh kok follow akun kami @Diana_Recap