Friday, April 6, 2018

Sinopsis Switch: Change The World Episode 5 Part 2

Sinopsis Switch: Change The World Episode 5 Part 2

Sumber: MBC


Malam-malam, Tae Woong menemui seseorang di kolong jembatan yang sangat sepi, mereka bicara tanpa turun dari mobil.

"Rencanamu sangat bagus. Sesuai dengan dugaanmu, Jaksa Baek langsung memakan umpannya." Ujar orang itu.

"Maafkan aku. Aku pasti bertindak terlalu jauh."

"Tidakkah sebaiknya kau merevisi rencananya? Bagaimanapun, dia seorang Jaksa. Jika terjadi kesalahan dalam rencanamu, akan banyak orang yang terseret. Kudengar, kau sudah mendapatkan videonya. Mari urus permasalahan ini diam-diam."

"Aku mengerti maksudnya. Aku akan merevisi rencananya. Tapi, aku ada satu pertanyaan. Jaksa Baek Joon Soo.. apakah dia asli?"

"Apa maksudmu?"

"Aku memang belum punya bukti, tapi kurasa aku berurusan dengan yang palsu."


Ha Ra dan Do Chan mengerahkan tim penyidik untuk mencari sesuatu di lokasi Do Chan diculik, tapi mereka belum menemukan sesuatu. Kepala penyidik mengatakan tidak ada CCTV maupun saksi karena lokasinya terpencil, sulit juga untuk mengidentifikasi kendaraannya, mereka juga tidak menemukan satu jejak pun. Lalu mereka menyuruh DO Chan dan Ha Ra kembali saja ke kantor sekarang.


Ha Ra berhasil mendapatkan gambar si botak. Ia memastikannya pada Do Chan, apa benar dia orangnya?

"Ya, kelihatan mirip, tapi aku merasa dia kelihatan lebih bagus di sketsa itu daripada aslinya." Jawab Do Chan.

Ha Ra: Kirimkan sketsanya ke semua cabang di Korea dan masukkan dalam daftar pencarian.

Penyidik: Ya, saya mengerti.

Ha Ra: Oh, ya, apa yang terjadi dengan kantor di Hongdae?

Detektir: Sudah dibersihkan tanpa jejak sama sekali.


Penyidik Ko membawakan teh untuk mereka semua menggunakan cangkir baru. Tapi Do Chan ijin ke toilet dulu karena tangannya kotor.


Setelah Do Chan seleai minum, Penyidik Ko meminta cangkir itu, ia yang akan membersihkannya.

"Ah, ya. Tehnya enak. Teh hijau Boseong memang yang terbaik." Kata Do Chan.

"Tepat sekali."



Penyidik Ko membawa cangkir itu untuk diselidiki sidik jarinya karena ia curiga dengan perubahan Jaksa Baek yang ekstrim.

"Kepribadian mungkin berubah, tapi tidak dengan sidik jari." Ucap Penyidik Ko.


Do Chan main-main seperti biasa dan Ha Ra mendadak masuk. Ha Ra tak percaya seorang penipu ulung seperti Do Chan membiarkan Penyidik Ko mencurigainya.

"Memang kenapa Pak Ko?" Tanya Do Chan.

"Seorang juniorku di laboratorium sidik jari barusan menghubungiku. Pak Ko ke sana mengajukan pemeriksaan sidik jari."

"Sidik jari?"

"Cangkir teh yang tadi kau pakai minum. Aish, bagaimana ini?"

"Aku tidak berpikir sejauh itu."

Sementara itu, Penyidik Ko kembali ke kantor dengan membawa hasil tes sidik jarinya.


Di dalam, Do Chan dan Ha Ra mengemasi barang-barang mereka. Suasananya haru banget.


Lalu penyidik Ko masuk dan berkata ada yang ingin ia sampaikan.

"Jaksa Baek berubah drastis dari terakhir kali kami bertemu. Saya berpikir mungkinkah dia orang lain. Rasa keingintahuan mantan detektif menguasai saya. Itu sebabnya, saya pergi ke laboratorium untuk memeriksa sidik jari Jaksa Baek."

Ha Ra: Meski begitu, tetap saja...

Do Chan: Apa hasilnya?

Penyidik Ko: Hasilnya... Sidik jari Jaksa Baek Joon Soo... 99% cocok. Maafkan saya.


Ha Ra menatap Do Chan tak percaya. Do Chan hanya tersenyum.

Penyidik Ko heran, kenapa mereka berkemas, ah.. sedang bersih-bersih ya? Ha Ra membenarkan. Penyidik Ko menyuruh mereka untuk memerintah para junior saja.


Saat hanya berdua di dalam lift, Ha Ra bisa merasa lega, tadi ia mengira jantungnya akan meledak.

"Sudah kubilang untuk santai saja. Bagaimanapun, berterima kasih padaku. Pada akhirnya, aku sudah melindungimu." Kata Do Chan.

"Bagaimana caramu melakukannya?"


Jadi Eun Ji menyamar menjadi perawat di klinik yang merawat Jaksa Baek, disana ia mengambil sidik jari Jaksa Baek.


Selanjutnya tugas In Tae untuk menciptakan sidik jari jaksa Baek.


Do Chan sudah curiga dengan Penyidik Ko saat memberinya teh, ia pamit ke toilet untuk memakai sidik jari palsu itu, walaupun sebenarnya ia tdak di toilet memakainya tapi di ruang penyimpanan alat-alat kebersihan.


Ha Ra menggut-manggut kagum, sungguh luar biasa menurutnya. 

"Itu bukan apa-apa." Balas DO Chan.

"Kutraktir makan siang." Ajak Ha Ra riang.


Di tempat makan, Ha Ra terus bertanya sambil mengambil makanan, bahkan ia tidak memberi jeda agar Do Chan bisa menjawab pertanyaannya.

"Tapi bagaimana kau tahu Pak Ko mencurigaimu? Tidak. Bagaimana kau bisa tahu dia akan memeriksakan sidik jarimu dari cangkir itu? Lebih tepatnya, kapan kau mulai menipu? Apakah itu bakat alamimu? Dari mana asalmu? Di mana orang tuamu? Kau punya saudara? Berapa banyak penipuan yang sudah kau lakukan? Bagaimana bisa kau tidak pernah tertangkap?"


Do CHan meminta Ha Ra membiarkannya makan dulu, tanyanya satu-satu. Ha Ra malah menggunakan sendok sebagai mic dan bertanya ala-ala reporter yang sedang mewawancarai.

Ha Ra: Apa rahasiamu sampai bisa menjadi penipu sesukses ini?

Do Chan terdiam, ia menatap Ha Ra secara intens, kaya ada getaran-getaran gitu. Lalu Do Chan menjawab entahlan, katakan saja hasil dari pendidikan dini.

Ha Ra: Pendidikan dini? Kerja bagus. Makanlah.


Ibu Ha Ra sedang belanja di pasar dan ia dikagetkan oleh suara mesin pembuat popcorn kuno. Ibu lalu menegur Ahjussi pembuat popcorn itiu.

"Kau mengagetkanku, Ahjussi. Aey, siapa yang masih melakukannya zaman sekarang? Memangnya rasanya enak?"

Ahjussi memanggil Ibu Eonni cantik, lalu memberi ibu popcorn nya untuk dicoba. Ibu mencobanya dan ternyata rasanya enak juga, lebih enak dari perkiraannya.

Dan karena Ibu sudah makan, Ahjussi memintanya membeli sekarung, 3000 won. 

"Kau sedang memerasku karena memakan popcorn ketel? Putriku itu Jaksa."

"Tadinya aku ingin memberi diskon, tapi lupakan saja."

"Ya, lupakan."

"Tapi, Eonni. Tidakkah orang-orang mengatakan kau seperti aktris?"

"Aktris? Siapa?"

"Audrey Hepburn. Tatapan matamu persis seperti Audrey Hepburn's."

"Menjual popcorn ketel kan tidak menghasilkan banyak uang. Aku akan membayar penuh."

Ibu mengambil dua kantung, ia membayar 6000 won tapi Ahjussi mengembalikan 1000 won, katanya itu bonus.


Tae Woong menemani Ketua Choi Jung Pil main golf. Ketua Choi bertanya soap Jaksa baek.

"Apa dia punya sembilan nyawa atau bagaimana? Atau kau yang terlalu lemah? Bagaimana bisa dia selamat dua kali?"

"Maafkan saya."

"Bereskan."

"Namun, Jaksa Wilayah berubah sikap. Dia melarang membunuhnya."

"Dia mencoba menjaga tangannya tetap bersih. Sikap alami manusia selalu memeriksa jam saat berada di luar rumah (merasa tidak nyaman). Bawa dia ke rumah pemandian. Mari memasukkannya ke dalam air."

"Saya mengerti."


Sung Doo dan Sekretaris Kim memindahkan beberapa kardus dari bagasi mobil 1 ke bagasi mobil 2. Namun aksi mereka di potret oleh seseorang.


Saat Tae Woong bersama Ketua CHoi meninggalkan lokasi golf juga tak luput dari jepretan kamera.


Sung Doo: Beruang melakukan muslihat,  sedangkan pemilik lingkaran mendapatkan uang. Kita yang bekerja keras memenuhi dompet Tuan Choi. Kita akan tetap baik-baik saja meski memutus hubungan dengannya. Saya tidak memahami Presdir.

~Oh.. jadi mereka tadi memindahkan uang ke mobil Tuan Choi.

Tae Woong: Kita akan baik-baik saja?

Sung Doo: Presdir kan sudah memiliki cukup uang untuk sepanjang sisa usia.

Tae Woong: Dengan 10 milyar won, kau bisa makan dengan baik. Dengan 100 milyar won, kau bisa mengendalikan orang-orang. Namun, jika ingin mengontrol seisi dunia, butuh 10 sampai 100 kali lipat dari itu.

Sung Doo langsung terdiam dan sekretaris Kim berhenti memperhatikan.

7 komentar:

  1. Semangat mbak. Ditunggu kelanjutannya ^_^

    ReplyDelete
  2. Semangat mbak. Ditunggu kelanjutannya ^_^

    ReplyDelete
  3. sejak nonton royal gambler jadi sukak sama jang geun seuk oppa♥♥♥
    (p)
    ditunggu kelanjutannya ^_^

    ReplyDelete
  4. Kog masih belum ada lanjutannya :(
    Dilanjut donk sampai ending...please
    Tetap semangat ya \^_^/

    ReplyDelete
  5. Halo kakak diana, baru mulai baca sinopsis lagi kka lagi nih, lanjut ya...
    Semamgat...

    ReplyDelete
  6. kereeen2 ceritanya, baca sinopsis tapi terasa nonton langsung

    ReplyDelete