Tuesday, April 10, 2018

Sinopsis Pretty Noona Who Buys Me Food Episode 3 Part 2

Sinopsis Pretty Noona Who Buys Me Food Episode 3 Part 2

Sumber: jtbc


Di Kantor, semua ketawa-tawa melihat ponsel mereka. Mungkin mereka semua melihat foto-foto di klub semalam.

Jin Ah datang, Ye Eun berkata kalau semalam mereka mengirim pesan. Se Young bertanya, sukses ketemuannya dengan pacar?

Jin Ah heran, bagaimana Se Young tahu? Se Young balik nanya, apa pentingnya yang penting itu Jin Ah balikan atau tidak? Jin Ah pun menjawab kalau semua berjalan lancar.

Ye Eun mengatakan ia akan menelfon Jin Ah lagi, tapi Adik Jin Ah bilang tidak usah. Jin Ah agak bingung, tapi kemudian Jin Ah mendapat telfon dari CEO.


Para peringgi perusahaan membicarakan Si Boss kedai kopi itu yang berhasil Jin Ah selesaikan masalahnya. Lalu mereka membicarakan soal kedai cabang itu.

Manajer Jung: Singkatnya biarkan Yoon Jin Ah menyelesaikannya dan membuat toko itu pulih seperti sedia kala. Di tahap seperti ini, eksekusi ketat perusahaan adalah merupakan solusi yang terbaik.

CEO setuju.


Jin Ah bertemu dengan Direktur Nam dan Asisten Kepala Gong di depan lift. Direktur Nam bertanya mengenai biaya pribadi promosi merchandiz pembukaan kedai baru.

Jin Ah: Ah, itu... Aku akan berusaha menyelesaikannya secepat mungkin.

Direktur Nam: Bukan, bagi seorang karyawan mungkin terasa sedikit berat. Biarlah ditanggung oleh perusahaan. Sudah kuselesaikan. Sekedar tahu saja.

Asisten Kepala Gong: Isa-nim (Direktur), sungguh tidak kuduga Anda sangat memperhatikan karyawan, saya sungguh menghormatimu. Yoon Daeri tunggu apa lagi? Cepat tundukkan kepalamu dan ucapkan terima kasih.

Direktur Nam: Kenapa ini? Sudah, sudah.

Jin Ah: Terima kasih, Isa-nim.


Jin Ah lalu mendatangi Manajer Jung, ia tahu kalau ini adalah hasil kerja Manajer Yoon, menghilangkan masalah dana pribadi itu.

"Aku mana sehebat itu? Aku hanya menyelesaikannya sesuai dengan prosedur perusahaan."

"Sudah berapa tahun aku kerja di sini. Kemampuan menilai yang seperti ini boleh dibilang aku masih punya."

"Sebelum orang lain yang juga memiliki kemampuan menilai orang jadi tahu Sebaiknya kau segera mulai bekerja."

"Terima kasih karena selalu membantuku."

"Aku tidak hanya membantumu."


Jin Ah mampir di kedai Kyung Sun, ia curhat soal dirinya yang harus kerja di lapangan untuk sementara ini. Jin Ah juga memberitahu kalau penanggung jawab kedai Kyung Sun akan diganti dengan orang yang bernama Kang Se Yeong.

"Aku tahu siapa dia. Waktu Lee Gyu Min datang kemarin dia kebetulan ada di sini untuk memperkenalkan dirinya. Sungguh cepat."


Jin Ah nampak terkejut. Ia lalu menjelaskan kalau Se Young itu bekerja gerak cepat, tapi dari segi pekerjaan harusnya tidak akan menimbulkan ketidak-nyamanan apapun.

"Segi pekerjaan? Kecuali ini masa ada lagi yang lain?" Tanya Kyung Sun.

"Maksudku jika..."

"Oh! Kau khawatir aku akan lebih dekat dengannya? Jadi kau sudah cemburu?"

"Tidak, Mama. Aku lapar. Kita pergi makan yuk! Aku traktir."

"Traktirnya lain kali saja. Hari ini adalah peringatan hari kematian ibuku."

"Ah, ternyata hari ini ya? Aku sampai lupa."

"Kau lupa pun tidak apa-apa. Hei, temani aku belanja mau? Aku ambil tas sebentar."

"Baik."


Jin Ah menemani Kyung Sun belanja dan ia tak menyangka sudah 10 tahun sejak Ibu Kyung Sun meninggal.  Begitu Joon Hee ujian masuk SMA ibu Kyung Sun meninggal.

"Waktu itu sungguh dingin." Imbuh Kyung Sun.

"Benar, dingin sekali. Appa... tidak ada kabar beritanya?"

"Aku lebih takut jika dia ada kabarnya. Aku takut dia bilang jika rumah tangga dia sudah bubar lagi. Dan mengajakku tinggal bersama."

"Melihatmu seperti ini aku merasa kau sungguh kejam."

"Justru karena kejam baru ada hari ini. Hei, saat aku ditinggal berdua dengan Joon Hee menurutmu bagaimana kami sanggup bertahan hidup?"


Kyung Sun: Kelak setelah berkumpul kembali bersama ibuku di surga aku harus mengajukan sebuah surat permintaan yang super mahal. Aku akan memberitahunya jika aku membesarkan putra ibuku dengan baik sekali. Menurutmu aku memiliki hak seperti itu atau tidak?

Jin Ah: Masih perlu dipertanyakan lagi? Kau membesarkannya dengan sangat baik.

Kyung SunL Walaupun aku tidak tahu dengan wanita seperti apa dan bagaimana Joon Hee akan melewati hidupnya, tapi aku mau menjadi seorang kakak ipar yang judes. Aku tidak sanggup melihatnya harus melihat raut wajah orang lain sehari-harinya. Aku harus menekannya dari awal.

Jin Ah: Hei, mendengarnya saja sudah membuatku merasa ketakutan.

Kyung Sun: Menarik 'kan? Kau cukup menonton keramaian dari pinggir.

Jin Ah: Iya juga.

Kyung Sun: Kau dan Lee Gyu Min benar-benar sudah berakhir?

Jin Ah: Ngomongin yang lain saja deh!

Kyung Sun: Hei, satu pertanyaan lagi. Sebodoh apapun dia, masa bisa sampai bilang ada sesuatu antara kau dan Joon Hee? Di dunia mana ada komedi seperti ini? Kau tidak merasa konyol?

Jin Ah: Makanya.


Kyung Sun meminta Joon Hee menjemput mereka. Dan kelihatan banget Joon Hee sama Jin Ah masih canggung.


Kyung Sun mengajak Jin Ah bareng sekalian, nanti mereka anter, tapi Jin Ah menolak.

Jin Ah: Kau cepatlah pulang siapkan makanan. Biar aku yang balikin keretanya nanti.

Jin Ah langsung ngacir.


Kyung Sun menegur Joon Hee, sekalipun hanya basa-basi setidaknya Joon Hee harus menawari untuk mengantar Jin Ah.

Joon Hee: Dia 'kan sudah bilang tidak usah.

Kyung Sun: Dasar!


Kyung Sun: Beberapa hari yang lalu kau marah, sampai sekarang masih belum reda? Ada apa? Gara-gara apa sampai marah?

Joon Hee: Mana ada aku? Jin Ah Noona mampir ke tokomu?

Kyung Sun: Iya, untuk sementara ini dia harus ke tempat lain dan bekerja sebagai manager sementara. Sebelumnya hampir saja keluar kata-kata seperti toko sampah dan sejenisnya. Mungkin karena tidak tega sehingga dia tidak memutuskannya. Dia tuh benar-benar deh! Dia tidak memutuskan Lee Gyu Min secara tegas, mungkin bisa dimengerti. Katanya kau ke rumah Jin Ah. Kok tidak cerita?

Joon Hee: Aku di sana cuma sejam saja. Dia cerita hal ini?

Kyung Sun: Bukan. Lee Gyu Min datang mencariku. Sungguh membuat orang sakit kepala.

Joon Hee: Mencari Noona? Kapan?


Kyung Sun: Kemarin. Dengan karyawan dari pusat... Siapa namanya ya? Ah, Kang Se Yeong. Aku lagi bicara dengannya. Dia tiba-tiba saja masuk ke dalam. Yoon Jin Ah juga mengejar masuk ke dalam. Mungkin mereka bertengkar hebat kemarin. Jin Ah terlihat seperti seolah-olah akan berduel dengannya. Sungguh membuat orang merasa tidak tenang. Aku sungguh berharap Jin Ah bisa tinggal di dekat rumahku. Waktu kau marah, pulang kemudian pergi lagi hari itu... Aku ke rumahmu mengambil bir. Aku dengar ada orang yang ngebel pintu jadi kubuka. Ternyata yang berdiri di depan pintu adalah Jin Ah.

Joon Hee: Rumahku?

Kyung Sun: Dia bilang karena aku tidak di rumah, jadi dia pikir aku di rumahmu.


Joon Hee berpikir, sampai ia lupa harus belok kanan. Kyung Sun heran, sedang mikirin apa sih Joon Hee ini? Joon Hee hanya menghela nafas.


Jin Ah pulang membawa belanjaan. Ibu heran, kenapa beli begitu banyak buah?

"Dikasih Kyung Sun. Hari ini adalah peringatan kematian Eomoni jadi kami belanja bersama. Dia minta aku bawa ini buat Eomma."

"Makanya aku sering bilang jika dia adalah putri sulungku."


Ibu lalu meminta Jin Ah duduk sebentar. Ibu bertanya, apa Jin Ah dan Gyu Min benar-benar sudah berakhir?

"Eomma!"

"Iya, ini memang kesalahan Gyu Min. Aku tahu dia berbuat hal yang tidak pantas."

"Apanya dia sih yang membuat Eomma begitu mabuk kepayang? Karena pendidikannya tinggi? Atau karena dia anak orang kaya?"

"Kau anggap aku ini orang seperti apa? Kelak tidak peduli ketemu siapapun, aku berharap kau bisa menemukan orang yang lebih baik darinya. Jangan hanya melihat penampilannya saja. Sudah jatuh ke dalam lubang pun, tidak sanggup keluar sendiri."

"Tidak akan ada kejadian seperti itu."

"Kau sudah janji padaku. Eomma tunggu ya?"


Kyung Sun dan Joon Hee melakukan upacara peringatan kematian ibu mereka.

Kyung Sun: Eomma melihat kita seperti apa?

Joon Hee: Putriku hebat sekali. Putraku... super ganteng.


Jin Ah bersih-bersih kamarnya. Payung itu ternyata ada di kolong tempat tidurnya.

Jin Ah memasukkan baju dan sepatu yang ia pakai untuk menemui Gyu Min ke dalam kardus.



Kyung Sun dan Joon Hee makan bersama, Kyung Sun makan mie kesukaan Jin Ah dan itu mengingatkannya pada Jin Ah, harusnya tadi ia mengajak Jin Ah.

Joon Hee: Siapapun yang dengar pasti mengira dia adalah putrimu.

Kyung Sun: Terkadang aku suka merasa dia itu seperti putriku. Dan aku seperti ibunya. Di saat Appa menikah lagi dan kita tinggal berdua, menurutmu siapa yang bisa menjadi sandaran bagiku? Bagaimanapun juga kau adalah adikku. Jin Ah adalah orang yang menyeka air mataku dan melap ingusku. Sekalipun saudara kandung, mungkin ada yang tidak sanggup seperti itu. Aku masih punya dua mimpi. Coba kau tebak.


Joon Hee: Yang satu, entah apa itu tapi yang pasti ada hubungannya denganku. Yang satunya lagi aku tidak tahu.

Kyung Sun: Jin Ah menemukan suami yang baik. Ah, gara-gara membicarakan dia aku jadi kangen padanya. Anak itu lagi ngapain ya kira-kira?

Kyung Sun lalu menelfon Jin Ah dan Joon Hee memasang telinga baik-baik untuk mendengar percakapan mereka.


Kyung Sun: Hei, lagi ngapain kau? Membenahi masa lalu? Menghapus memori? HAHAHA Apa? Mau kau buang semuanya? Kau buang-buang uang lagi? Show itu, show. Hei, punya dosa apa pakaianmu?

Dan Kyung Sun berjalan ke toilet sembari bicara. Joon Hee ditinggal sendirian dan tampak berpikir.


Jin Ah sekarang ada di tempat sampah untuk membuang barang-barangnya itu sambil ngomong sama Kyung Sun di telfon.

Jin Ah juga membuang payung pemberian Joon Hee, tapi kayaknya ia gak tega.


Joon Hee balik ke rumahnya, tapi ia gak jadi masuk, ia memakai mantelnya dan berlari menuju lift.


Sementara itu, jin Ah duduk diayunan sambil memainkan payung itu dan Joon Hee tiba-tiba muncul di depannya. Jin Ah terkejut, ngapain Joon Hee disana?

"Katanya kau ke rumahku. Kenapa mau ke sana?" Tanya Joon Hee.

"Kyung Sun cuma ngomong ini saja? Kenapa dia bicara cuma setengah? Dasar. Kenapa cuma bilang ini saja? Aku ke rumah Kyung Sun tapi dia tidak berada di rumah. Aku punya perasaan dia ada di rumahmu, jadi aku ke sana."

"Kau ke sana sungguh untuk bertemu dengan Noonaku?"

"Bukan dia siapa lagi?"

"Aku mau tanya, kau ke sana mencariku?"

 

Akhirnya Jin Ah mengaku, ia kesana memang untuk mencari Joon Hee karena ia  merasa bersalah, juga ingin berterima kasih. Tapi begitu mendengar Joon Hee bicara tentang logika dan akal sehat, ia senang hari itu tidak bertemu dengan Joon Hee. Jika mendengar Joon Hee bicara seperti itu di depan Kyung Sun, betapa malunya ia.

"Mananya yang malu? Omonganku tidak salah." Jawab Joon Hee.

"Kau kenapa... mendadak ke sini cuma untuk mengomeliku? Menurutmu aku ini orang yang gampang ditindas?

"Memang. Kenapa kau harus menunjukkan jika dirimu itu gampang ditindas? Sehingga bertemu dengan situasi seperti ini? Diseret ke sana ke mari oleh orang yang sama sekali bukan siapa-siapa."

"Siapa yang diseret oleh siapa? Kau... sungguh lucu. Sungguh lucu."

"Kau sama sekali tidak tertawa. Apanya yang lucu?"

"Oke, anggap saja semua yang kau katakan adalah benar. Tidak ada lagi yang ingin kau katakan? Puas?"


Jin Ah akan pergi tapi Joon Hee bilang kalau ia belum selesai bicara. Joon Hee menanyakan soal payung itu.

Jin Ah: Aku ada perasaan akan turun hujan jadi kubawa. Kenapa?

Joon Hee: Bukankah kau bilang ingin membenahi masa lalu? Kau bilang mau kau buang semuanya. Yang kau maksud adalah ini? Kalau begitu berikan padaku. Biar aku yang buang.

Jin Ah: Kenapa harus dibuang? Susah payah aku memungutnya kembali.


Joon Hee akhirnya bisa tersenyum, "Sepertinya kau suka sekali sama payung."

Jin Ah kesal dan memukuli Joon Hee dengan payung itu, tapi Joon Hee lari, jadi mereka kejar-kejaran. Dan begitulah mereka berbaikan.


Joon Hee mengantar Jin Ah sampai di depan apartemen, tapi Joon Hee menutupi tombol sandinya, ia bertanya, bisa gak kalau Jin Ah tidak masuk?

"Terus aku harus ke mana?" Tanya Jin Ah.

"Barusan apa yang ada di pikiranmu?"

"Tidak ada sama sekali. Kenapa? Ada apa?"

"Tidak ada. Kita keluar yuk!"

"Boleh."

4 komentar:

Jangan lupa tinggalkan komentar yha kawan..
Dan bagi kawan2 yang main Twitter boleh kok follow akun kami @Diana_Recap